BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia hadapi tantangan dalam memenuhi komitmen impor pertanian AS akibat surplus domestik
Indonesia berpotensi kesulitan memenuhi target impor pertanian AS, termasuk gandum, kedelai, dan tepung kedelai, setelah meneken kesepakatan tarif baru.
Indonesia hadapi tantangan dalam memenuhi komitmen impor pertanian AS akibat surplus domestik
Mesin dan panen gandum. Foto: Arsip Reuters / Reuters
14 jam yang lalu

Para pedagang mengatakan bahwa Indonesia berpotensi kesulitan memenuhi janji untuk meningkatkan impor produk pertanian Amerika Serikat (AS) secara signifikan, karena beban pembelian besar-besaran kedelai dan tepung kedelai jatuh pada badan milik negara yang baru, Berdikari.

Minggu lalu, Indonesia menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan AS yang menurunkan tarif produk Indonesia dari 32 menjadi 19 persen, dengan pengecualian untuk komoditas utama seperti minyak sawit, kakao, dan karet. 

Sebagai imbalannya, Indonesia berkomitmen meningkatkan impor gandum tahunan menjadi 2 juta ton dari 1,1 juta ton, kedelai menjadi 3,5 juta ton dari 2,2 juta ton, dan tepung kedelai menjadi 3,8 juta ton dari 216.257 ton.

“Pabrik-pabrik penggilingan Indonesia sudah membeli lebih banyak gandum AS,” kata seorang pedagang kepada Reuters dari perusahaan perdagangan internasional yang memasok gandum dan biji-bijian pakan ternak ke Indonesia. 

“Tahun lalu, mereka membeli 1,1 juta ton, naik dari 750.000 ton tahun sebelumnya. Paling-paling, mereka bisa membeli 1,25–1,3 juta ton tahun ini.” tambahnya.

TerkaitTRT Indonesia - Perjanjian dagang dengan AS, Indonesia diminta batasi ekspor ke negara yang diboikot

Tekanan pada Kedelai dan Tepung Kedelai

AS, sebagai pemasok pertanian utama, berupaya mendiversifikasi ekspor ke pasar selain China, yang kini menahan pembelian karena ketegangan perdagangan dengan Washington.

Untuk kedelai, Indonesia sudah sebagian besar mengimpor dari AS untuk memenuhi permintaan tahu dan tempe. Namun, komitmen baru melebihi total kebutuhan tahunan nasional.

“Komitmen membeli 3,5 juta ton per tahun harus dinilai realistis agar tidak melebihi permintaan domestik dan mengganggu keseimbangan pasokan,” ujar Hidayatullah Suralaga, Ketua Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo), Selasa (24/2) lalu.

Pada 2025, Indonesia membeli 216.257 ton tepung kedelai dari AS, naik sekitar 50 persen dari tahun sebelumnya, namun jauh dari target 3,8 juta ton. Karena volume ini sangat besar, pemerintah bisa menugaskan Berdikari, importir pakan ternak milik negara, untuk membeli lebih banyak meski harganya lebih tinggi dibanding pemasok lain, kata seorang pedagang biji-bijian berbasis di Singapura.

Akhir tahun lalu, Jakarta menugaskan Berdikari menangani seluruh pembelian biji-bijian pakan mulai 2026. 

Berdikari diperkirakan akan mengimpor sekitar 5 juta ton tepung kedelai untuk memasok pabrik pakan dan peternak ayam skala kecil, menurut Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. 

“Persiapan impor sedang berlangsung, menunggu regulasi pemerintah yang diharapkan keluar Maret,” kata Corporate Secretary Hasbi Al-Islahi.

Indonesia sendiri mengimpor 5,96 juta ton tepung kedelai pada 2025. Selain kedelai dan gandum, kesepakatan dengan AS juga mencakup pembelian 100.000 ton jagung, 163.000 ton kapas, serta daging sapi dan buah-buahan.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia dan AS sepakati tarif 19 persen, komoditas utama Indonesia bebas bea masuk ke AS
SUMBER:Reuters