Indonesia meresmikan implementasi program biodiesel campuran 50 persen berbasis kelapa sawit (B50) sebagai bagian dari strategi menekan impor energi di tengah tingginya harga minyak global.
Kebijakan ini diperkirakan akan mendorong konsumsi minyak sawit mentah (CPO) domestik menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton, naik dari sebelumnya 15,2 juta ton. Program B50 resmi diluncurkan awal Juli dan menjadi salah satu mandat pencampuran biodiesel terbesar di dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada solar impor. Pemerintah juga tengah menyiapkan kebutuhan bahan baku berupa 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter fatty acid methyl ester (FAME) untuk mendukung implementasi penuh program ini.
Presiden Prabowo Subianto, yang menghadiri peluncuran di Karawang, Jawa Barat, menilai langkah tersebut sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam menekan emisi karbon global. Ia bahkan mendorong peningkatan campuran hingga 100 persen, meski saat ini pemerintah memprioritaskan B50.
“Ini pencapaian luar biasa bagi bangsa. Kita tidak boleh berhenti di B50, mungkin kita bisa mencapai B60,” ujar Prabowo.

Kementerian Energi mencatat peningkatan campuran biodiesel menjadi 50 persen berpotensi menghemat anggaran impor bahan bakar hingga Rp170 triliun pada tahun ini, meningkat dari sekitar Rp133 triliun pada 2025.
Sebelumnya, melalui program B40, Indonesia mengalokasikan 15,64 juta kiloliter biodiesel—naik 4,68 persen dibanding konsumsi tahun lalu sebesar 14,94 juta kiloliter. Pemerintah memberi waktu hingga akhir September bagi pelaku usaha untuk menghabiskan stok B40 sebelum transisi penuh ke B50, sementara kuota tambahan masih dalam proses finalisasi.
Mahalnya BBM picu warga beralih ke biodiesel
Di sisi lain, lonjakan harga minyak global turut mengubah perilaku konsumen.
Seorang pensiunan berusia 58 tahun, Arnoldus Yusuf, mengaku beralih ke biodiesel karena tidak lagi mampu membeli bahan bakar non-subsidi. “Saya pikir harganya tidak masuk akal, sudah naik tiga kali lipat. Saya pensiunan, jadi tidak sanggup. Sekarang kami mencoba beralih ke biodiesel,” ujarnya.
Harga solar non-subsidi di Indonesia dilaporkan melonjak hingga 46 persen sepanjang tahun ini, mencapai sekitar Rp21.150 per liter pada awal Juli—lebih dari tiga kali lipat harga biodiesel bersubsidi yang berada di kisaran Rp6.800 per liter. Kondisi ini mendorong sebagian pengendara beralih ke biodiesel, bahkan dengan memodifikasi kendaraan mereka.

Fenomena tersebut turut membuka peluang bisnis baru bagi bengkel modifikasi kendaraan.
Di Tangerang, seorang pemilik bengkel, Aong Ulinnuha, mengaku permintaan meningkat seiring semakin banyak pengguna yang beralih ke biodiesel. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan bahan bakar ini memerlukan perawatan lebih sering karena residu yang dihasilkan lebih tinggi dibanding solar konvensional.
Meski demikian, implementasi B50 tidak lepas dari tantangan. Harga minyak sawit yang cenderung lebih tinggi dibanding solar, serta fluktuasi harga minyak global, berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah.



























