Venezuela dan sekitarnya: Bisakah Trump merebut hati masyarakat Amerika Latin?

Sejarah mengajarkan: taktik paksaan hanya efektif sesaat. Operasi militer kilat di Venezuela menunjukan kekuatan, tapi apakah cukup untuk memenangkan hati dan pikiran negara-negara Amerika Latin?

By Jianlu Bi
Aksi protes menentang serangan AS terhadap Venezuela, di Sao Paulo, Brasil. / Reuters

Optik peristiwa 3 Januari tidak bisa dianggap sepele. ‘Operation Absolute Resolve’ — serangan kilat ke Venezuela dan penahanan Nicolás Maduro beserta istrinya ke Amerika Serikat — memang dirancang untuk menunjukkan kekuatan penuh.

Ini adalah jenis teater geopolitik yang menjadi ciri khas pemerintahan kedua Trump: demonstrasi kekuatan yang luar biasa untuk menyelesaikan kebuntuan kompleks puluhan tahun dalam satu malam penuh kejutan.

Di Washington, para pendukung tampak bergembira; “halaman belakang” dianggap telah dijinakkan, dan aliran minyak vital diklaim telah “diamankan”.

Namun, ketika asap mulai menipis di Caracas, muncul pertanyaan penting: apakah kebijakan yang sepenuhnya mengandalkan tekanan dan pemaksaan bisa menciptakan pengaruh yang bertahan lama?

Dalam perhitungan geopolitik yang dingin, Amerika Serikat jelas memenangkan pertempuran atas wilayah dan sumber daya.

Tetapi dalam sejarah panjang Amerika Latin, AS hampir pasti kalah dalam perang untuk memenangkan ‘hati dan pikiran’.

Warisan intervensi

Untuk memahaminya, kita harus melihat lebih jauh dari keberhasilan taktis sesaat dan menelaah strategi di balik operasi ini.

Ini bukan sekadar operasi kontra-narkotika; ini adalah “baptisan kekerasan” dari Trump Corollary — versi hiper-agresif Doktrin Monroe 1823 untuk abad ke-21.

Doktrin baru ini meninggalkan dalih nilai-nilai demokrasi bersama yang, meski tidak sempurna, mewarnai pendekatan AS sebelumnya di kawasan ini.

Sebaliknya, doktrin ini mengadopsi pandangan transaksional murni terhadap benua Amerika.

Data pertahanan menunjukkan, seluruh jumlah serangan udara pemerintahan Biden selama empat tahun (555 serangan) sudah terlampaui hanya dalam satu tahun kembalinya Trump (626 serangan).

Angka ini penting; menunjukkan bahwa kekerasan di Venezuela bukan anomali, melainkan bagian dari strategi luas di mana diplomasi digantikan oleh dominasi militer langsung — dari situs nuklir Iran, sel teror di Somalia dan Nigeria, hingga ibu kota di Karibia.

Hal ini membawa kita pada persoalan ‘hati’ di Amerika Latin. Selama puluhan tahun, AS berjuang menghadapi warisan intervensi abad ke-20 — kudeta di Chile dan Guatemala, invasi Panama.

Namun, selalu ada harapan pada tatanan berbasis aturan, bahwa hukum internasional bisa menjadi pelindung bagi negara kecil dari tekanan negara adidaya.

3 Januari menghancurkan pelindung itu. Dengan melewati Dewan Keamanan PBB, mengabaikan kekebalan kedaulatan, dan melakukan operasi pergantian rezim berdasarkan perintah eksekutif domestik AS, Washington mengirim pesan menakutkan ke setiap ibu kota dari Mexico City hingga Santiago: kedaulatan bersyarat pada persetujuan Amerika.

Seperti diperingatkan dewan editorial The New York Times mengenai karakter Trump, pemimpin yang meremehkan norma domestik akan memproyeksikan kekacauan itu secara internasional.

Dampak psikologisnya di kawasan adalah ketakutan mendalam, bukan rasa hormat atau kasih sayang.

Ketika keamanan suatu negara bergantung sepenuhnya pada menghindari kemarahan superpower yang tidak dapat diprediksi dan memandang hukum internasional hanya sebagai saran, hubungan yang tercipta hanyalah kepatuhan yang dipaksakan, bukan kemitraan sejati.

Anda tidak bisa membombardir orang sampai mereka menyukai Anda; yang bisa dilakukan hanyalah memaksa mereka patuh, dan kepatuhan itu hanya bertahan selama ancaman masih ada di atas kepala.

Trump Corollary menawarkan pilihan keras bagi Amerika Latin: ketaatan demi kelangsungan hidup, dengan pengelolaan sumber daya yang dikontrol perusahaan AS.

Janji “rekonstruksi” Venezuela justru dilihat oleh banyak negara Global South bukan sebagai bantuan, tetapi sebagai neokolonialisme — pengambilalihan aset nasional dengan kekerasan.

AS vs China

Bagi presiden pragmatis di Amerika Latin — baik kiri di Brasil maupun tengah-kanan di Chile — pilihannya semakin jelas.

Model AS berisiko tinggi dan menuntut banyak, memerlukan keselarasan politik yang sering memicu ketidakpuasan domestik.

Sebaliknya, model China menawarkan “multilateralisme menang-menang” yang fokus pada pembangunan ekonomi tanpa ceramah moral.

Dampak langsung operasi di Venezuela menunjukkan hal ini dengan jelas. China menghindari konfrontasi militer langsung dengan pemerintahan AS yang volatil, sambil menempatkan diri sebagai pelindung hukum internasional dan pembela Global South dari intimidasi Barat.

Dalam konteks ini, para pemimpin Amerika Latin menyimpulkan secara pragmatis: untuk bertahan dari Trump Corollary, mereka harus bersikap hati-hati.

Mereka tidak bisa memprovokasi “beruang Amerika” yang mengamuk di halaman depan, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya mempercayainya menjaga rumah mereka.

Respons strategis yang tak terhindarkan adalah memperdalam hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Eropa, terutama China, sebagai asuransi terhadap ketidakpastian Amerika.

Keuntungan jangka pendek jelas: Maduro pergi, dan aliran minyak segera mengalir ke AS.

Tetapi biaya jangka panjangnya tak ternilai. Benua yang dikuasai ketakutan rentan terhadap nasionalisme, radikalisme anti-Amerika, dan membuat alternatif yang ditawarkan Beijing bukan hanya menarik, tetapi krusial bagi kelangsungan nasional.

AS telah membuktikan sekali lagi kemampuannya menghancurkan setiap oposisi di belahan Barat dalam hitungan jam.

Namun, di abad ke-21, dominasi yang bertahan lama dibangun bukan dari kemampuan menghancurkan, tapi dari kemampuan menciptakan kemakmuran bersama dan menjaga saling menghormati.

Dengan memilih jalur kapal perang daripada jalur kemitraan, Amerika mungkin mengamankan minyak Venezuela, tetapi secara definitif kehilangan kepercayaan Amerika Latin.