Tekanan dari lonjakan harga energi dunia dan ketidakpastian kebijakan domestik terus membayangi prospek perekonomian nasional. Meski rupiah dan pasar saham mulai pulih setelah kenaikan suku bunga Bank Indonesia, sejumlah analis menilai kepercayaan investor belum sepenuhnya kembali.
Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia terdampak kenaikan harga minyak mentah global yang dipicu perang di Timur Tengah. Pemerintah tetap mempertahankan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan anggaran besar, meski sejumlah pihak mengkritik kebijakan tersebut karena dinilai membebani fiskal.
Di tengah kebutuhan terhadap arus modal asing, pemerintah juga memperketat pengawasan ekspor. Langkah tersebut disebut sebagian pengamat sebagai bentuk "nasionalisme sumber daya" yang berpotensi mengurangi daya tarik Indonesia di mata investor.
Rupiah sempat menyentuh rekor terendah baru dengan menembus level Rp18.100 per dolar AS pekan ini. Sementara itu, pasar saham Indonesia telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya sejak awal tahun, menjadikannya salah satu yang berkinerja terburuk di dunia.

BI naikkan suku bunga, kepercayaan investor masih diuji
Bank Indonesia pekan ini menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dalam dua pertemuan berturut-turut. Langkah tersebut disambut positif oleh pasar dan membantu penguatan rupiah serta pemulihan indeks saham.
Namun, BMI, unit riset di bawah Fitch Solutions, menilai kekhawatiran investor terhadap kebijakan domestik masih akan berlanjut. Menurut lembaga tersebut, rupiah masih sekitar tujuh persen lebih lemah dibandingkan sebelum pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai delapan persen pada 2029. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan pemerintah tidak akan meninggalkan target tersebut karena Indonesia perlu meningkatkan pertumbuhan agar dapat keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah.
Juda juga menegaskan pemerintah mendukung langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga dan menghormati independensi bank sentral dalam menentukan kebijakan moneter.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kenaikan suku bunga saja tidak cukup untuk menopang rupiah. Mereka menilai pemerintah perlu mengadopsi kebijakan yang lebih ramah terhadap investor untuk memulihkan kepercayaan pasar.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia pada 2026 tidak akan melebihi lima persen akibat tingginya belanja pemerintah, lebih rendah dari target resmi sebesar 5,4 persen. Di sisi lain, data pemerintah menunjukkan ekonomi tumbuh 5,6 persen pada kuartal pertama tahun ini, meski sebagian analis mempertanyakan reliabilitas angka tersebut.
Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, mengatakan pemerintah perlu menunjukkan komitmen menjaga defisit fiskal untuk membangun kembali kepercayaan investor.
"Kepercayaan dibangun melalui kinerja, reputasi, dan tindakan, bukan hanya kata-kata," kata Deni kepada AFP.














