Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menyiapkan paket langkah darurat untuk menghadapi potensi lonjakan pencemaran udara selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung dari awal Mei hingga Agustus.
Mengutip laporan Antara pagi ini (5/3), upaya ini mencakup penguatan pemantauan kualitas udara serta pengendalian sumber emisi utama di Ibu Kota.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa, menjelaskan bahwa konsep respons cepat sebenarnya pernah disusun beberapa tahun lalu, namun belum dituangkan dalam bentuk regulasi resmi.
“Kami pernah buat 10 langkah respon cepat penanggulangan pencemaran udara. Tetapi karena kondisi kualitas udara membaik pada 2024, 2025 dan mudah-mudahan sekarang, belum sempat kami olah menjadi satu regulasi,” kata Erni di Jakarta, Kamis, dikutip oleh Antara.
Menurut Erni, pendekatan respons cepat itu akan kembali diaktifkan ketika musim kering dimulai. Fokusnya antara lain pada peningkatan kualitas sistem pemantauan udara serta penguatan uji emisi kendaraan bermotor sebagai sumber polusi utama.
Selain itu, metode teknis seperti penyemprotan “water mist” di area perkotaan juga akan tetap digunakan.
Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi “water mist” kini telah meluas di berbagai bangunan. “Kami pasang ‘water mist’ di beberapa gedung, sekarang sudah terpasang 100,” ujarnya, merujuk pada upaya yang ditujukan untuk menekan konsentrasi polutan di udara sekitar kawasan padat aktivitas.
Di luar langkah jangka pendek, pemerintah daerah juga sedang meninjau ulang Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU). Evaluasi tersebut meliputi tren partikel halus PM2.5, kontribusi emisi dari masing-masing sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan publik.
“SPPU sedang dievaluasi. SPPU kami bagi lagi, kami cari di kegiatan mana yang paling efektif dalam menanggulangi pencemaran udara Jakarta,” kata Erni.
Peringatan dini terkait kondisi cuaca datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang menyebut musim kemarau tahun ini diproyeksikan lebih panjang dan relatif lebih kering dibandingkan 2025.
BMKG memperkirakan awal musim kemarau mulai terasa pada April 2026 di sekitar 114 zona musim, lalu meluas ke wilayah lain secara bertahap pada Mei dan Juni.










