Menteri Urusan Diaspora Israel Amichai Chikli mengatakan Israel pada akhirnya akan berperang melawan Suriah, berargumen bahwa baik Suriah maupun Türkiye merupakan "tantangan strategis yang lebih besar" bagi Israel dibanding Iran.
"Kami akan berperang melawan Suriah, cepat atau lambat, karena Suriah dan Türkiye jauh lebih mengkhawatirkan daripada Iran," kata Chikli pada hari Kamis dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Israel 103FM, yang terafiliasi dengan surat kabar Maariv.
Komentarnya muncul hanya beberapa jam setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri permusuhan di beberapa front regional, termasuk Lebanon.
Chikli, anggota Partai Likud yang berkuasa yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, berulang kali mengkritik aktor-aktor regional yang terlibat dalam upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Ketakutan Israel terhadap keselarasan regional yang muncul
Menteri Israel itu menyatakan kekhawatiran atas apa yang ia sebut sebagai "poros Qatar-Türkiye-Pakistan," menuduh ketiga negara tersebut memengaruhi kesepakatan yang tengah muncul antara Washington dan Teheran.
"Kesepakatan yang mulai terbentuk itu mengkhawatirkan, dan yang paling tidak membuat saya khawatir adalah rehabilitasi ekonomi Iran," kata Chikli, merujuk pada dampak perang dan bertahun-tahun sanksi terhadap Iran.
Ia berargumen bahwa kekhawatirannya yang utama adalah keselarasan regional yang menurutnya membantu membentuk kesepakatan tersebut.
"Apa yang kita lihat di hadapan mata kita adalah bangkitnya poros baru," kata Chikli, menggambarkannya sebagai "poros Suni radikal yang sangat berbahaya."
Pakistan dan Qatar telah memainkan peran mediasi dalam kontak antara Washington dan Teheran, sementara Presiden Türkiye Recep Tayyip Erdogan menyambut nota kesepahaman AS-Iran itu, menyebutnya "sebuah perkembangan penting" bagi perdamaian dan stabilitas regional.
Pernyataan-pernyataan itu menyoroti meningkatnya kekhawatiran di antara beberapa pejabat Israel atas pergeseran dinamika regional seiring upaya diplomatik mendapat momentum setelah berbulan-bulan konflik dan ketidakstabilan di seluruh Timur Tengah.











