Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan penundaan pengiriman pasukan dilakukan karena sejumlah pertimbangan, termasuk situasi keamanan yang belum stabil di Timur Tengah.
“Semua di-hold. Di-hold,” ujar Prasetyo usai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Pertahanan, Selasa (16/3). Saat ditanya sampai kapan penundaan akan berlaku, ia belum dapat memastikan. “Ya sampai batas waktu yang belum ditentukan,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, menjelaskan TNI akan mengirim personel secara bertahap untuk bergabung dengan ISF. Awalnya, TNI menyiapkan 20.000 pasukan, namun akhirnya hanya 8.000 yang dijadwalkan dikirim.

“Negara-negara lain cuma mengirim ratusan personel. Kita siap 8.000, tapi yang paling penting, jika situasi tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, kita lakukan pekerjaan,” jelas Sjafrie.
Hingga saat ini, waktu pengiriman pasukan ke Gaza masih menunggu keputusan dari Board of Peace (BoP) dan membaiknya situasi geopolitik di wilayah tersebut. Meski demikian, Sjafrie memastikan TNI tetap mempersiapkan pasukan agar siap dikirim kapan pun diperlukan.
“Kesiapan kita juga bagian dari siaga operasional. Biasa kalau tentara ada siaga bencana, siaga taktis, siaga strategis,” tambahnya.
Penundaan ini menjadi langkah antisipatif pemerintah di tengah ketegangan yang meningkat di Gaza, sekaligus memastikan keselamatan personel TNI yang akan ditugaskan dalam misi perdamaian internasional.






