BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
BRIN–CERN tandatangani kerja sama riset dan teknologi
Partisipasi tersebut menjadi sarana penting dalam pengembangan sumber daya manusia unggul serta penguasaan teknologi maju, seperti akselerator partikel, magnet superkonduktor, sistem deteksi radiasi, fast-electronic system, dan pengelolaan data.
BRIN–CERN tandatangani kerja sama riset dan teknologi
Penandatanganan secara sirkuler dilakukan oleh Direktur Jenderal CERN, Prof. Mark Thomson, dan Kepala BRIN, Prof. Arif Satria. / Kemlu RI

Indonesia memperkuat langkahnya dalam diplomasi sains global setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menandatangani International Cooperation Agreement (ICA) dengan The European Organization for Nuclear Research (CERN) pada Selasa (21/4) di Jenewa, Swiss.

Kesepakatan yang ditandatangani Kepala BRIN Arif Satria dan Direktur Jenderal CERN Mark Thomson ini mencakup negosiasi, konsultasi lintas lembaga, serta koordinasi intensif selama dua tahun. 

Inisiatif kerja sama tersebut sebelumnya digagas pada November 2023, dengan perundingan resmi dimulai Maret 2024 dan diselesaikan secara substansial pada November 2025, sebelum mendapat persetujuan Dewan CERN pada Desember 2025.

Perjanjian ini menjadi landasan hukum penting yang membuka akses lebih luas bagi peneliti, mahasiswa, serta institusi Indonesia untuk terlibat dalam ekosistem riset CERN. 

“Science for peace and innovation for prosperity merupakan semboyan yang diusung BRIN dan juga CERN. Kami percaya bahwa kerja sama Indonesia–CERN ini akan membawa manfaat bagi masyarakat dan memperkuat daya saing Indonesia,” ujar Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono.

TerkaitTRT Indonesia - Asia Tenggara percepat pengembangan nuklir di tengah krisis energi global

Pengembangan riset global

CERN sendiri dikenal sebagai salah satu organisasi ilmiah terbesar di dunia yang berdiri pada 1954 sebagai simbol kolaborasi damai pasca-Perang Dunia II. Berbasis di perbatasan Swiss–Prancis dekat Jenewa, lembaga ini melibatkan lebih dari 17.000 ilmuwan dari lebih 100 negara dengan dukungan anggaran tahunan sekitar 1,4 miliar franc Swiss.

Kolaborasi terbaru ini memperkuat kontribusi Indonesia, mencakup komputasi berperforma tinggi, pengembangan dan pemeliharaan sistem detektor, hingga analisis data fisika energi tinggi. 

Keterlibatan tersebut juga membuka peluang penguasaan teknologi mutakhir seperti magnet superkonduktor, sistem deteksi radiasi, elektronik cepat, serta pengelolaan big data melalui jaringan Worldwide LHC Computing Grid.

Selain itu, kerja sama diarahkan untuk peningkatan kapasitas melalui program upgrade detektor dan pengembangan eksperimen berkelanjutan. Skema pertukaran peneliti dan mahasiswa juga menjadi bagian dari upaya mencetak talenta unggul dalam kerangka Manajemen Talenta Nasional.

Kesepakatan ini menegaskan peran Indonesia sebagai mitra aktif dalam riset global sekaligus memperkuat posisi negara dalam kerja sama multilateral di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 

TerkaitTRT Indonesia - BRIN dan Korea Selatan kerja sama riset pangan berbasis sel berkelanjutan


SUMBER:TRT Indonesia