Rupiah kembali melemah, tertekan geopolitik Timur Tengah dan penguatan Dolar

Ahli mengatakan bahwa pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

By
Rupiah menurun ke posisi Rp17.002 per dolar AS pada Kamis (2/4/2026). / Reuters

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (2/4), terseret tekanan eksternal yang masih mendominasi pasar global. Mata uang Indonesia ini turun 19 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp17.002 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.983 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dinilai berkaitan erat dengan penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah di tengah perang Israel-AS terhadap Iran. 

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menyebut dinamika tersebut turut dipicu oleh pergerakan harga minyak dunia.

“Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah,” ujarnya dikutip oleh Antara.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana untuk menarik diri dari Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Konflik yang melibatkan AS dan Israel telah memicu lonjakan harga energi dan gangguan pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Amru menilai pernyataan tersebut menambah tekanan di pasar keuangan global. 

“Ketidakjelasan terkait akhir konflik serta masih terbukanya potensi eskalasi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” katanya kepada Antara.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat, terutama ketenagakerjaan, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia yang turun menjadi 3,48 persen secara tahunan dinilai membantu menjaga stabilitas. Namun, faktor eksternal tetap lebih dominan. 

“Langkah Bank Indonesia melalui instrumen seperti SVBI dan SUVBI turut menjaga likuiditas valas, meskipun dampaknya dalam jangka pendek masih kalah dominan dibanding faktor eksternal,” pungkas Amru.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke Rp17.015 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.002 per dolar AS.