Washington DC — Penantian panjang menuju laga pembuka Piala Dunia 2026 akhirnya berakhir.
Pada Kamis, lebih dari 80.000 suporter diperkirakan memadati Stadion Azteca yang bersejarah di ibu kota Meksiko untuk menyaksikan tim tuan rumah Meksiko menghadapi Afrika Selatan. Pertemuan ini mengingatkan kembali pada laga pembuka Piala Dunia 2010 yang saat itu digelar di Afrika Selatan.
Pertandingan tersebut dilaporkan berpotensi disaksikan lebih dari satu miliar penonton di seluruh dunia melalui televisi maupun layanan streaming, meski angka tersebut belum dikonfirmasi oleh FIFA.
Di balik semarak perayaan, kedua tim tetap menghadapi tekanan besar. Meksiko yang menempati peringkat ke-14 dunia berambisi menjadi juara grup yang juga dihuni Korea Selatan dan Republik Ceko.
Sementara itu, Afrika Selatan yang berada di peringkat ke-60 dunia bertekad menandai kembalinya mereka ke panggung terbesar sepak bola dengan kemenangan demi membuka peluang lolos ke babak 32 besar.
Didukung keuntungan bermain di kandang sendiri dan di hadapan pendukungnya, El Tri datang ke pertandingan ini dengan status favorit kuat.

Kekuatan kedua tim
Meski banyak pengamat menjagokan Meksiko, pelatih Javier Aguirre mengingatkan agar timnya tidak meremehkan Bafana Bafana. Ia menyebut Afrika Selatan sebagai tim dengan karakter unik yang lebih kuat daripada yang diperkirakan banyak orang.
Aguirre bukan sosok asing bagi Afrika Selatan. Ia pernah menghadapi mereka pada laga pembuka Piala Dunia 2010 saat menangani Meksiko dan kembali berjumpa ketika menjadi pelatih Mesir di Piala Afrika 2019. Ia juga pernah memimpin Meksiko di Piala Dunia 2002.
“Afrika Selatan adalah tim yang tangguh. Mereka tidak sepenuhnya memiliki gaya Afrika maupun Eropa,” kata Aguirre, yang memimpin Meksiko untuk ketiga sekaligus terakhir kalinya di Piala Dunia pada 2026.
Aguirre biasanya menerapkan formasi 4-3-3 yang dapat berubah menjadi 4-2-3-1 atau 4-4-2 tergantung lawan yang dihadapi. Skema 4-3-3 digunakan untuk memaksimalkan permainan dari kedua sisi lapangan.
Pendekatan taktik Meksiko mengandalkan tekanan tinggi, terutama saat menghadapi lawan yang mereka yakini bisa didominasi.
Penyerang Raul Jimenez menjadi pemain andalan sekaligus simbol semangat bagi publik Meksiko. Setelah mengalami patah tulang tengkorak pada 2020, ia berhasil kembali memperkuat tim nasional di Piala Dunia 2022 di Qatar.
Gelandang bertahan Erik Lira juga menjadi salah satu pemain kunci bagi Meksiko.
Di sisi lain, Afrika Selatan berusaha membuktikan bahwa perkembangan mereka di bawah pelatih Hugo Broos bukanlah kebetulan, melainkan awal dari era baru yang mengubah wajah sepak bola negara tersebut.
Menyadari beratnya tantangan di laga pembuka, Broos mengatakan, “Grup ini tidak mudah bagi kami. Pertama-tama kami akan menghadapi tuan rumah di laga pembuka, di Stadion Azteca, dan itu akan sangat sulit.”
Sama seperti Meksiko, Afrika Selatan juga mengandalkan formasi 4-3-3 yang sesekali berubah menjadi 4-2-3-1.
Gaya permainan mereka lebih berfokus pada pertahanan dan mengandalkan transisi cepat untuk menyerang.
Afrika Selatan akan sangat bergantung pada gelandang andalan Mamelodi Sundowns, Teboho Mokoena.
Penampilan impresif di Piala Dunia dapat mewujudkan impian masa kecil Mokoena sekaligus menarik perhatian pencari bakat dari klub-klub dunia. Gelandang tersebut dikenal piawai menghubungkan permainan, mencetak gol dari luar kotak penalti, dan membangun kerja sama yang solid di lapangan.

Mengingat kembali 2010
Laga pembuka Piala Dunia 2026 membangkitkan kenangan pada turnamen 2010 ketika tuan rumah Afrika Selatan bermain imbang 1-1 melawan Meksiko pada pertandingan pertama.
Kesamaan tersebut tidak luput dari perhatian para penggemar. Pertemuan ulang ini menjadi jembatan simbolis yang menghubungkan dua generasi Piala Dunia.
Meski berlangsung dalam latar yang berbeda, pertandingan kali ini tetap menghadirkan nuansa yang serupa. Bedanya, Meksiko kini bertindak sebagai tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada.
Bagi Meksiko, laga ini menjadi kesempatan ideal untuk membuka kampanye Piala Dunia di kandang dengan kemenangan yang meyakinkan.
Sedangkan bagi Afrika Selatan, pertandingan ini merupakan peluang untuk menghidupkan kembali semangat 2010 dan mengingatkan dunia sepak bola akan warisan Piala Dunia yang masih membekas di benua Afrika.
Di luar arti penting hasil pertandingan, duel ini juga sarat dengan nostalgia.
Laga pembuka Piala Dunia umumnya jarang dikenang bertahun-tahun kemudian. Namun, pertemuan Meksiko melawan Afrika Selatan pada 2010 tetap menjadi bagian dari cerita bersejarah turnamen berkat atmosfer, simbolisme, dan momen-momen yang tak terlupakan.
Pertemuan ulang pada 2026 menghidupkan kembali kisah tersebut, menghubungkan suara khas vuvuzela dari Afrika Selatan dan optimisme Piala Dunia pertama di Afrika dengan era baru sepak bola di Amerika Utara.










