Pemerintah Indonesia terus melakukan komunikasi dengan Iran terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di sekitar Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, kata Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno pada Kamis (11/6).
Usai pertemuan dengan Komisi I DPR RI di kompleks parlemen Jakarta, Havas menegaskan bahwa kontak dengan otoritas Iran masih berlangsung untuk mencari jalan keluar atas situasi tersebut.
“Kami terus menjalin komunikasi dengan pemerintah Iran dan melanjutkan diskusi dengan pihak-pihak terkait,” ujarnya dikutip oleh Antara.
Dua kapal tersebut, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS). Keduanya masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz akibat situasi keamanan yang belum stabil.
Menurut Havas, perkembangan penyelesaian kasus ini sangat bergantung pada dinamika konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa salah satu hambatan utama adalah aspek asuransi, di mana banyak perusahaan asuransi tidak bersedia menanggung risiko kapal yang melintas di wilayah dengan tingkat ancaman tinggi.
Selain itu, keputusan untuk melanjutkan pelayaran juga tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada evaluasi kapten kapal serta persetujuan pemilik muatan demi keselamatan kru dan kargo.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan bahwa proses negosiasi terkait dua kapal tersebut masih terus berjalan. Ia juga menyoroti adanya hambatan birokrasi di Iran yang membuat implementasi keputusan tidak selalu berjalan tanpa hambatan di lapangan.














