Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memangkas prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negative dari stable pada Rabu (4/03), dengan alasan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan menurunnya kredibilitas perumusan kebijakan.
Langkah ini menambah kekhawatiran investor terhadap ekonomi Indonesia.
Fitch menjadi lembaga kedua yang menurunkan prospek tahun ini setelah Moody's melakukan langkah serupa bulan lalu karena berkurangnya prediktabilitas kebijakan. Keduanya masih mempertahankan Indonesia di peringkat investment grade kedua terendah.
Prospek negatif berarti penurunan peringkat berikutnya berpotensi terjadi.
Penurunan prospek sebelumnya oleh Moody’s sempat mengguncang pasar keuangan Indonesia dan terjadi setelah MSCI menyoroti masalah transparansi di bursa saham, yang memicu arus keluar dana besar-besaran.
ketidakpastian kebijakan serta erosi konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan di tengah sentralisasi kewenangan pengambilan keputusan.” Kondisi ini dinilai dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan membebani penyangga eksternal.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal sesuai mandat undang-undang, serta akan menjalankan percepatan belanja dan stimulus secara terukur.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa penurunan prospek tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi, seraya menyebut prospek domestik tetap kuat dan tangguh.
Kekhawatiran investor
Fitch juga menilai dorongan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ke sekitar 8 persen dari sekitar 5 persen saat ini berpotensi melonggarkan bauran kebijakan fiskal dan moneter secara signifikan.
Lembaga itu menyoroti rencana parlemen meninjau ulang undang-undang keuangan negara yang membatasi defisit anggaran di bawah 3 persen dari PDB dan rasio utang maksimal 60 persen dari PDB.
Kekhawatiran investor meningkat seiring agenda belanja besar Presiden Prabowo Subianto, termasuk program makan gratis (MBG) di sekolah senilai sekitar US$20 miliar, di tengah penerimaan negara yang lemah.
Fitch memperkirakan defisit anggaran tahun ini mencapai 2,9 persen dari PDB—lebih lebar dari target pemerintah 2,7 persen—serta memproyeksikan penurunan suku bunga lanjutan sebesar 50 basis poin.
Fitch turut menandai risiko kewajiban kontinjensi dari investasi dana kekayaan negara baru, Danantara, serta potensi risiko terhadap Bank Indonesia akibat perluasan mandatnya. Pemerintah menyatakan Danantara akan dikelola secara kredibel sebagai mesin pertumbuhan investasi.
Sementara itu, S&P menjadi satu-satunya lembaga besar yang belum meninjau peringkat Indonesia tahun ini dan saat ini memberi peringkat BBB dengan prospek stabil.
Menurut Fitch, faktor pemicu penurunan peringkat ke depan antara lain meningkatnya kerentanan ekonomi, pelemahan kerangka kebijakan lebih lanjut, lonjakan utang publik, atau penurunan tajam cadangan devisa.











