Penyedia indeks global FTSE Russell menunda peninjauan status pasar saham Indonesia, mengikuti langkah MSCI, di tengah kekhawatiran soal transparansi kepemilikan saham dan kelancaran perdagangan.
Keputusan ini menambah tekanan terhadap kepercayaan investor pada ekonomi Indonesia.
FTSE Russell dan MSCI menjadi acuan utama bagi triliunan dolar dana pasif global, sehingga kebijakan mereka dapat memicu arus modal besar.
Sejak MSCI bulan lalu memperingatkan bahwa Indonesia berisiko diturunkan dari status pasar berkembang menjadi pasar frontier, sekitar US$120 miliar nilai pasar hilang dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tekanan juga datang dari lembaga pemeringkat. Pekan lalu, Moody’s memangkas prospek peringkat kredit Indonesia.
Secara keseluruhan, perkembangan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa pengelolaan ekonomi di bawah Presiden Prabowo Subianto belum sepenuhnya mendorong masuknya investasi asing.
Dalam pernyataan di situsnya, FTSE Russell mengatakan akan menunda tinjauan indeks yang semula dijadwalkan Maret dan memberikan pembaruan sebelum tinjauan global pada Mei, dengan pengumuman klasifikasi negara pada 7 April.
Status Indonesia sebagai pasar berkembang sekunder tidak berubah, namun FTSE menyoroti kesulitan menilai tingkat saham free-float, sejalan dengan kekhawatiran MSCI.
Mulai berlaku segera, FTSE membekukan penambahan saham Indonesia yang baru tercatat serta seluruh pembaruan rutin dalam produknya. MSCI juga telah menghentikan pembaruan untuk sekuritas Indonesia.
Di pasar, saham dan rupiah menguat tipis pada awal perdagangan, karena langkah FTSE dinilai sudah diantisipasi.
Pemerintah Indonesia berjanji menggandakan persyaratan free-float dan memperketat aturan keterbukaan pemegang saham besar agar kepemilikan dan transaksi lebih mudah dipantau.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah bertemu dengan FTSE dan mendapat dukungan terhadap rencana reformasi tersebut.
Otoritas pasar juga akan memberi penjelasan kepada MSCI pekan ini mengenai kemajuan perbaikan.
Gejolak pasar sebelumnya memicu pengunduran diri lima pejabat senior di bursa dan regulator Indonesia.
Kekhawatiran investor semakin kuat setelah keponakan Presiden Prabowo ditunjuk di bank sentral bulan lalu, pada saat sentimen global terhadap pasar berkembang justru sedang membaik.








