ASIA
2 menit membaca
Indonesia usulkan tiga pilar kerja sama AI di forum China-ASEAN
Indonesia mengusulkan tiga pilar kerja sama AI di kawasan ASEAN, meliputi riset, infrastruktur digital, dan pengembangan talenta untuk menghadapi tantangan keamanan serta etika AI.
Indonesia usulkan tiga pilar kerja sama AI di forum China-ASEAN
Kepala OREI BRIN Budi Prawara wakili Kepala BRIN di forum AI ASEAN-China 2026 di Nanning, China. Foto: BRIN

Indonesia mengusulkan tiga pilar kerja sama regional untuk memperkuat riset, infrastruktur, dan sumber daya manusia di bidang kecerdasan buatan (AI) di Asia Tenggara.

Usulan tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Budi Prawara dalam 2026 China ASEAN Ministerial Roundtable on Artificial Intelligence di Nanning, Guangxi, China, pada 17 September 2026.

Budi hadir mewakili Kepala BRIN dalam forum yang mengangkat tema “Discussing AI Governance and Creating a Safe Future”. Pertemuan tersebut membahas pengembangan AI sekaligus aspek keamanan, etika, dan tata kelola teknologi tersebut.

Budi mengatakan Indonesia memiliki visi untuk membangun ekosistem AI yang etis dan bertanggung jawab, sekaligus mengarahkan pengembangan teknologi tersebut untuk memperkuat daya saing nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Ada tiga sektor yang menjadi prioritas Indonesia dalam pengembangan AI, yaitu riset dan inovasi industri, pengembangan talenta, serta infrastruktur data,” ujar Budi.

Menurutnya, AI tidak dikembangkan sebagai teknologi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai teknologi pendukung berbagai prioritas pembangunan nasional, termasuk sektor pangan, kesehatan, sumber daya air, dan mitigasi bencana.

Untuk memperkuat kerja sama di tingkat regional, Indonesia mengusulkan tiga pilar kolaborasi.

Pilar pertama berupa kerja sama riset dan pengembangan melalui laboratorium bersama serta pendanaan bersama. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan kekayaan intelektual yang sesuai dengan kebutuhan nasional dan regional.

Pilar kedua mencakup pengembangan infrastruktur digital bersama, termasuk akses terhadap pusat data hijau dan komputasi berkinerja tinggi (high performance computing). Langkah tersebut ditujukan untuk membantu mengurangi kesenjangan kemampuan komputasi antarnegara.

Sementara itu, pilar ketiga berfokus pada pengembangan sumber daya manusia melalui program pertukaran dan pelatihan bersama bagi generasi muda dan peneliti.

Selain tiga pilar tersebut, Indonesia menilai penguatan teknologi dasar seperti semikonduktor, satelit, dan keamanan siber juga penting melalui kerja sama bilateral maupun regional.

Forum tersebut turut membahas berbagai tantangan dalam pengembangan AI, termasuk keamanan, etika, bias algoritma, serta tata kelola teknologi.

Pertemuan menghasilkan lima poin konsensus, termasuk perlunya langkah konkret dan kerja sama multipihak untuk menangani deepfake, pelanggaran privasi, dan bias algoritma. Peserta juga mendorong penguatan komunikasi, pembelajaran bersama, dan kerja sama internasional dalam pengembangan regulasi serta tata kelola AI.

Forum tersebut juga mendorong penguatan kerja sama China-ASEAN melalui peran World Artificial Intelligence Cooperation Organization dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Budi mengatakan forum tersebut menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan arah pengembangan AI nasional sekaligus mengusulkan bentuk kerja sama yang dapat memperkuat kapasitas riset, infrastruktur, dan sumber daya manusia di kawasan.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia dorong kerja sama global untuk transformasi transportasi
SUMBER:TRT Indonesia