ASIA
2 menit membaca
Polri dampingi 68 anak di 18 provinsi yang terpapar paham Neo-Nazi
Puluhan anak di berbagai daerah teridentifikasi terpapar ideologi ekstrem Neo-Nazi dan supremasi kulit putih. Aparat menemukan indikasi penguasaan senjata serta rencana aksi kekerasan yang menyasar lingkungan sekolah.
Polri dampingi 68 anak di 18 provinsi yang terpapar paham Neo-Nazi
Polisi menyebut pelajar terduga pelaku ledakan masjid SMAN 72 terinspirasi aksi supremasi kulit putih. / AP
20 jam yang lalu

Sebanyak 68 anak di 18 provinsi mendapat pendampingan dari Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) setelah diduga terpapar ideologi ekstrem dan memiliki kecenderungan melakukan kekerasan.

Anak-anak tersebut diketahui tergabung dalam grup daring bernama True Crime Community yang menyebarkan paham Neo-Nazi dan supremasi kulit putih.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Syahardiantono mengungkapkan, temuan itu menunjukkan adanya potensi ancaman serius. “Mereka ditemukan telah menguasai berbagai senjata berbahaya dengan rencana aksi menyasar lingkungan sekolah serta teman sejawat,” ujarnya dikutip dari Tempo.

Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana menjelaskan, hasil interogasi awal menunjukkan para anak tersebut menjadikan paham Neo-Nazi dan supremasi kulit putih sebagai pembenaran atas tindakan yang ingin mereka lakukan.

Terkait senjata, Mayndra menyebut sebagian berupa senjata mainan. Namun, ada pula senjata tajam seperti pisau yang diperoleh melalui pembelian daring. “Ada pula pisau, kebanyakan dari pembelian online,” katanya.

Menurut Mayndra, Densus 88 saat ini baru melakukan penyelidikan awal serta pendampingan terhadap anak-anak tersebut. Penanganan lanjutan dilakukan secara terpadu bersama kepolisian di daerah serta kementerian dan lembaga terkait sesuai kewenangan masing-masing.

Sepanjang 2025, Densus 88 juga mengungkap jaringan penyebaran paham radikalisme lain yang diduga telah menjaring sekitar 110 anak di 23 provinsi. Dalam kasus tersebut, doktrin kekerasan disebarkan melalui berbagai grup komunikasi di dunia maya.

Temuan ini menjadi peringatan serius terkait kerentanan anak terhadap paparan ideologi ekstrem di ruang digital, sekaligus menegaskan pentingnya pengawasan dan edukasi bersama antara aparat, keluarga, dan institusi pendidikan.

TerkaitTRT Indonesia - Pelaku ledakan di masjid SMAN 72 Jakarta terinspirasi serangan neo-Nazi dan aksi balas dendam
SUMBER:TRT Indonesia