BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Arus investasi asing ke Indonesia melambat pada 2025, Danantara diharapkan jadi pembangkit
FDI Indonesia pada 2025 tercatat nyaris stagnan dengan tahun sebelumnya. Pemerintah berharap badan dana kekayaan negara Danantara mampu mendorong peningkatan investasi di tahun ini.
Arus investasi asing ke Indonesia melambat pada 2025, Danantara diharapkan jadi pembangkit
FOTO ARSIP: Logo Danantara di Kantor pusatnya di Jakarta, Indonesia. / Reuters
19 Januari 2026

Arus investasi asing langsung (foreign direct investment atau FDI) ke Indonesia menunjukkan stabilitas sepanjang 2025, meski laju pertumbuhannya lambat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. 

Data resmi pemerintah yang dirilis Kamis (15/01) menunjukkan bahwa total FDI mencapai Rp900,9 triliun atau sekitar US$53,4 miliar, hanya meningkat 0,1 persen dari 2024, jauh di bawah lonjakan 21 persen yang tercatat setahun sebelumnya.

Perlambatan tersebut terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, pemerintah mencatat adanya tanda pemulihan pada akhir tahun. 

Pada kuartal keempat 2025, FDI tumbuh 4,3 persen secara tahunan menjadi Rp256,3 triliun, menandai pertumbuhan pertama dalam tiga kuartal terakhir setelah sebelumnya terkontraksi 8,9 persen pada kuartal ketiga. Angka-angka ini tidak mencakup investasi di sektor keuangan serta minyak dan gas.

Menteri Investasi Rosan Roeslani menilai kinerja kuartal terakhir patut dicermati, mengingat kondisi global yang masih bergejolak serta adanya gelombang demonstrasi anti-pemerintah di sejumlah kota di Indonesia pada akhir Agustus hingga awal September. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan daya tahan iklim investasi nasional.

Ke depan, pemerintah menaruh harapan besar pada Danantara, dana kekayaan negara yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Februari lalu sebagai instrumen utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029, dari sekitar 5 persen saat ini. 

Menteri Rosan, yang juga menjabat sebagai kepala eksekutif Danantara, mengatakan peran badan tersebut akan semakin signifikan dalam menarik investor asing maupun domestik.

“Saya yakin tahun ini baik FDI maupun investasi domestik akan meningkat jauh lebih tinggi karena investor dapat bermitra dengan Danantara, sehingga risiko menjadi lebih terukur,” ujar Rosan.

Sepanjang tahun 2025, Danantara masih berfokus pada pembentukan struktur operasional dan perekrutan sumber daya manusia, dan baru mulai beroperasi penuh pada Oktober. Selain berinvestasi secara mandiri, Danantara juga menawarkan skema ko-investasi bersama dana asing atau perusahaan global untuk menanamkan modal di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami peningkatan FDI, terutama di sektor pertambangan serta pengolahan logam. Tren ini dipicu oleh kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2020 dan mineral lainnya pada 2023, yang bertujuannya mendorong hilirisasi dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Pada 2024, sektor logam dasar menjadi penerima FDI terbesar dengan nilai US$14,6 miliar, disusul sektor pertambangan sebesar US$4,7 miliar. 

Singapura, Hong Kong, dan China tercatat sebagai tiga sumber utama investasi asing langsung ke Indonesia untuk tahun 2025.

TerkaitTRT Indonesia - Singapura pertahankan posisi teratas investor asing di Indonesia pada 2025
SUMBER:Reuters