BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Satelit nasional NEO-1 masuk tahap uji, melanjutkan jejak LAPAN-A
BRIN terus memperkuat kemandirian Indonesia di bidang teknologi antariksa dengan mengembangkan satelit generasi terbaru Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) yang ditargetkan meluncur pada akhir 2026.
Satelit nasional NEO-1 masuk tahap uji, melanjutkan jejak LAPAN-A
Satelit LAPAN-A1/LAPAN-Tubsat mengorbit 18 tahun, diluncurkan 10 Jan 2007, satelit mikro BRIN. Foto: BRIN
4 jam yang lalu

Keberhasilan Indonesia dalam penguasaan teknologi satelit ditandai dengan peluncuran dan pengoperasian tiga satelit nasional, yakni LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3. Ketiganya menjadi fondasi penting bagi pengembangan satelit generasi berikutnya yang kini tengah digarap BRIN.

Senior Engineer Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Suraduita Mupasanta, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia untuk berdiri mandiri dalam riset dan pengembangan teknologi antariksa. Menurut dia, setiap satelit dalam seri LAPAN-A memiliki peran strategis sekaligus menjadi tahapan pembelajaran teknologi bagi peneliti dalam negeri.

LAPAN-A1 merupakan satelit generasi pertama yang bersifat eksperimental. Satelit ini dikembangkan melalui kerja sama peneliti Indonesia dengan Technische Universität Berlin, Jerman. Dirancang dan dibangun di Jerman, LAPAN-A1 beroperasi di orbit polar untuk misi pengamatan Bumi.

“Walaupun misi utamanya sudah selesai, satelit ini melampaui usia operasional yang diperkirakan dan hingga kini masih dapat menerima perintah,” ujar Suraduita saat menerima kunjungan mahasiswa Universitas Prof. Dr. Hamka Muhammadiyah di Bogor, Kamis (15/1), seperti dikutip BRIN.

LAPAN-A1 diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) C7 milik India. Satelit tersebut awalnya dirancang beroperasi selama dua hingga tiga tahun, namun sistem komunikasinya masih berfungsi hingga sekarang.

Pengembangan berlanjut dengan kehadiran LAPAN-A2 yang dikerjakan bersama Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Satelit ini diluncurkan pada 28 September 2015 menggunakan roket PSLV C30 dan hingga kini masih aktif beroperasi.

LAPAN-A2 memiliki peran penting dalam pemantauan Bumi dan mitigasi bencana melalui muatan spacecam, voice repeater (VR), dan Automatic Packet Reporting System (APRS). Selain itu, satelit ini mendukung pemantauan kapal melalui sistem Automatic Identification System (AIS) dengan dukungan komunitas ORARI di berbagai wilayah Indonesia.

Sementara itu, LAPAN-A3 dikembangkan bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan diluncurkan pada 22 Juni 2016 menggunakan roket PSLV C34. Satelit ini masih aktif menyediakan data global untuk misi AIS serta pemantauan vegetasi melalui kamera multispektral.

Seluruh satelit nasional tersebut dikendalikan dari stasiun bumi milik BRIN yang tersebar di Rancabungur (Bogor), Kototabang (Sumatera Barat), Parepare (Sulawesi Selatan), dan Biak (Papua).

“Pengembangan terbaru adalah satelit NEO-1 yang saat ini telah memasuki tahap pengujian dan integrasi,” kata Suraduita. Satelit ini diharapkan menjadi lompatan berikutnya dalam mendukung kebutuhan data pengamatan Bumi untuk berbagai kepentingan nasional.

TerkaitTRT Indonesia - Komdigi aktifkan satelit SATRIA-1 untuk pulihkan konektivitas di wilayah terdampak bencana
SUMBER:TRT Indonesia