BUDAYA
3 menit membaca
Sudan berhasil memulihkan ratusan artefak yang dijarah saat perang, 'ruang emas' masih hilang
Koleksi paling berharga museum, yakni “ruang emas”, hingga kini belum ditemukan, termasuk perhiasan kuno dan artefak emas 24 karat yang sebagian berusia hampir 8.000 tahun.
Sudan berhasil memulihkan ratusan artefak yang dijarah saat perang, 'ruang emas' masih hilang
Lebih dari 570 barang antik dicuri dari museum nasional selama perang berkepanjangan di negara itu. / AFP
10 jam yang lalu

Otoritas Sudan memamerkan patung-patung kuno, vas berhias, serta jimat berbentuk kumbang scarab dalam sebuah seremoni di Port Sudan untuk merayakan keberhasilan pemulihan lebih dari 570 artefak yang dijarah dari museum nasional selama perang berkepanjangan di negara itu.

Artefak-artefak tersebut, yang ditata di atas meja-meja besar dengan penjagaan ketat pada Selasa, berhasil ditemukan setelah berbulan-bulan penyelidikan dan kemudian dibawa ke ibu kota sementara di masa perang.

Museum Nasional di Khartoum, yang menyimpan sejumlah koleksi arkeologi terpenting Sudan, dijarah dan mengalami kerusakan parah setelah kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut ibu kota pada awal konflik dengan militer, yang sebelumnya merupakan sekutu mereka.

Saat itu, citra satelit menunjukkan truk-truk yang membawa artefak bergerak ke arah barat, menuju wilayah Darfur yang luas—yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali RSF.

Sejak kejadian tersebut, otoritas Sudan bekerja sama dengan UNESCO dan Interpol untuk melacak artefak-artefak yang dicuri.

Namun, hingga Selasa, pihak berwenang belum merinci secara jelas bagaimana proses pemulihan artefak-artefak tersebut dilakukan.

Imbalan finansial bagi pengembalian artefak

“Warisan Sudan bukan hanya penting secara nasional, tetapi juga merupakan harta karun bagi umat manusia,” ujar perwakilan UNESCO di Sudan, Ahmed Junaid, merujuk pada upaya internasional dalam memerangi perdagangan ilegal benda-benda budaya.

“Banyak orang tidak mengetahui nilai dari benda-benda yang dipamerkan di meja-meja ini, padahal semuanya mencerminkan identitas bangsa dan sejarahnya,” kata Menteri Keuangan Sudan, Gibril Ibrahim.

“Mereka yang mencuri artefak kami berupaya menghapus identitas kami,” tambahnya.

Menteri Informasi dan Kebudayaan Sudan, Khalid Aleisir, mengumumkan adanya “imbalan finansial” bagi siapa pun yang mengembalikan artefak kepada pihak berwenang, meski tidak menyebutkan jumlahnya.

Koleksi paling berharga masih hilang

Para pejabat memperkirakan artefak yang berhasil dipulihkan baru mencakup sekitar 30 persen dari total benda yang dijarah dari museum.

Sementara itu, isi dari yang disebut “ruang emas”—koleksi paling berharga milik museum—masih belum ditemukan. Koleksi tersebut mencakup perhiasan kuno dan artefak emas 24 karat, sebagian di antaranya berusia hampir 8.000 tahun.

Kini, hanya sedikit yang tersisa di Museum Khartoum, yang dibangun pada 1950-an.

Para penjarah mengambil hampir semua benda yang mudah dipindahkan, menyisakan hanya artefak berukuran besar dan berat, seperti patung granit hitam raksasa Firaun Taharqa, penguasa Kerajaan Kush dan Mesir pada 690–664 SM.

Pada Maret lalu, setelah militer berhasil merebut kembali Khartoum dari RSF, para arkeolog untuk pertama kalinya dalam dua tahun dapat memasuki museum tersebut guna menilai tingkat kerusakan.

Sebagian besar museum di Sudan dilaporkan telah dijarah sejak perang dimulai, termasuk Istana Sultan Ali Dina, penguasa Darfur pada 1891–1916.

Istana tersebut berada di El Fasher, ibu kota Darfur Utara, yang jatuh ke tangan RSF pada Oktober lalu.

Otoritas kepurbakalaan nasional Sudan memperkirakan total kerugian akibat penjarahan ini mencapai sekitar US$110 juta.

SUMBER:AFP