Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra dalam beberapa pekan terakhir memicu kabut asap tebal. Asap bahkan menyebar hingga ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
Di Pontianak, kota yang dihuni sekitar 700 ribu penduduk, kabut asap sempat mengganggu berbagai aktivitas di luar ruangan. Pemerintah setempat bahkan meliburkan sekolah, sementara puluhan ribu kasus infeksi saluran pernapasan tercatat sejak bulan lalu.
Namun, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir membuat warga kembali dapat menghirup udara dengan lebih lega. Kondisi tersebut juga meredakan kekhawatiran warga terhadap dampak kabut asap terhadap kesehatan, terutama anak-anak.
Lilis Suryani, 43 tahun, mengatakan dirinya langsung merasakan perubahan kualitas udara setelah hujan turun. Jarak pandang yang sebelumnya terbatas akibat asap kini kembali lebih jernih.
Hal serupa disampaikan Uray Rosa Febrianti, 23 tahun, yang menyebut hujan sebagai sebuah berkah setelah warga Pontianak berhari-hari menghadapi kabut asap.
Bagi warga, hujan tidak hanya membuat udara menjadi lebih sejuk, tetapi juga memberikan harapan bahwa kondisi lingkungan mulai membaik.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah mengerahkan petugas pemadam kebakaran bersama para relawan untuk menangani karhutla. Upaya tersebut juga dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca dan pengeboman air.
Meski demikian, penanganan kebakaran menghadapi berbagai kendala dan belum sepenuhnya mampu mengatasi dampak asap yang menyelimuti sejumlah wilayah.
Data lembaga pemantau kualitas udara IQAir pada Selasa menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2,5 di Pontianak sempat mencapai lebih dari 23 kali lipat dari batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada awal September, konsentrasi PM2,5 bahkan sempat mencapai 100 kali lipat dari ambang batas yang direkomendasikan WHO.
Partikel PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai aliran darah. Paparan terhadap polutan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang.
Indonesia secara rutin menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Di Kalimantan, periode kebakaran biasanya mencapai puncaknya antara Juli dan September.
Tahun ini, kondisi tersebut diperburuk oleh fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan. Fenomena cuaca tersebut diprediksi menjadi salah satu yang terkuat dalam empat dekade terakhir.
Selain faktor cuaca, para ahli juga menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar sebagai salah satu faktor yang memperparah kebakaran dan mengancam ekosistem alami, terutama kawasan gambut.


























