POLITIK
3 menit membaca
Bulgaria resmi adopsi euro di tengah ketidakpastian politik dan gelombang protes
Transisi mata uang ini berlangsung di tengah pemilu berulang, protes besar terkait korupsi, serta kondisi ekonomi yang masih rapuh.
Bulgaria resmi adopsi euro di tengah ketidakpastian politik dan gelombang protes
Orang-orang berdemonstrasi setelah oposisi parlemen mendesak protes menyusul runtuhnya pemerintahan akibat sengketa pajak, Sofia, Bulgaria. / Reuters
1 Januari 2026

Bulgaria resmi mengadopsi mata uang euro pada 1 Januari, menjadikannya anggota ke-21 zona euro. Keputusan ini diambil meski negara Balkan tersebut tengah menghadapi gelombang protes publik, instabilitas politik yang berkepanjangan, serta kekhawatiran masyarakat soal potensi kenaikan harga.

Bulgaria bergabung dengan Uni Eropa pada 2007 dan masuk ke “ruang tunggu” zona euro pada 2020 bersama Kroasia, yang lebih dulu mengadopsi euro pada 2023.

Pemerintah Bulgaria menyatakan telah memenuhi seluruh empat kriteria Maastricht untuk bergabung dengan zona euro, mulai dari stabilitas harga, kondisi keuangan publik yang sehat, stabilitas nilai tukar, hingga konvergensi suku bunga jangka panjang.

Brussels dan Sofia sama-sama menilai langkah ini sebagai “tonggak bersejarah” yang diyakini akan memperkuat stabilitas ekonomi Bulgaria, mendorong perdagangan dan investasi, serta semakin mengikat negara tersebut dengan Uni Eropa.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut euro akan membawa “lebih banyak perdagangan, lebih banyak investasi, dan lapangan kerja berkualitas” bagi Bulgaria.

Namun, adopsi euro berlangsung di tengah krisis politik yang belum mereda, ditandai dengan tujuh kali pemilu parlemen dalam empat tahun terakhir, tuduhan korupsi yang terus berulang, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Pendapat publik terbelah

Pandangan masyarakat Bulgaria terhadap euro masih terbelah tajam. Survei terbaru Kementerian Keuangan menunjukkan 51 persen warga mendukung adopsi euro, sementara 45 persen lainnya menolak.

Penolakan menguat lewat aksi protes yang dipimpin Partai Revival berhaluan kanan jauh. Partai ini memperingatkan bahwa penggunaan euro akan “memicu inflasi dan menggerus kedaulatan nasional”. Pada Juni lalu, anggota parlemen dari partai tersebut sempat memblokade mimbar parlemen dan terjadi ketegangan fisik saat debat soal masuknya Bulgaria ke zona euro.

Kekhawatiran soal lonjakan harga masih meluas, terutama di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah, masyarakat pedesaan, dan warga lanjut usia.

Biaya hidup naik

Dengan rata-rata gaji bulanan sekitar €1.250 atau setara US$1.467, serta posisi Bulgaria sebagai negara dengan PDB per kapita terendah di Uni Eropa pada 2024—sekitar 34 persen di bawah rata-rata UE—banyak warga khawatir tidak mampu menanggung kenaikan biaya hidup.

Institusi Uni Eropa menegaskan tidak ada bukti bahwa adopsi euro menyebabkan inflasi jangka panjang. Mereka juga berjanji menerapkan pengamanan ketat, termasuk penetapan harga ganda dan pengawasan lebih ketat, untuk mencegah kenaikan harga yang tidak wajar.

Pendukung kebijakan ini berargumen bahwa masuknya Bulgaria ke zona euro akan menurunkan biaya pinjaman, memperbaiki peringkat kredit negara, serta menguntungkan sektor-sektor utama seperti pariwisata yang menyumbang sekitar 8 persen terhadap PDB.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa instabilitas politik yang berlanjut berpotensi menggerus manfaat ekonomi yang diharapkan. Pada Desember lalu, pemerintahan Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov mengundurkan diri setelah berminggu-minggu aksi protes besar menuntut pemberantasan korupsi. Pemilu baru diperkirakan digelar pada awal 2026.

SUMBER:TRT World & Agencies