Upaya pencarian keluarga yang hilang terus berlangsung di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, setelah banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera sejak akhir November. Sudah seminggu berlalu, namun ratusan warga masih belum mengetahui nasib kerabat mereka.
Di berbagai platform media sosial, laporan tentang anggota keluarga yang belum ditemukan semakin banyak. Grup dibentuk oleh warga untuk saling bertukar informasi. Banyak keluarga yang berupaya menelusuri jejak orang hilang melalui saling berbagi informasi, setelah akses ke sejumlah daerah terputus oleh banjir dan longsor.
Sebagian besar laporan orang hilang berasal dari wilayah Aceh bagian timur dan dataran tinggi, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.
Secara nasional, bencana ini telah menewaskan 753 orang, dengan 650 lainnya masih hilang, sementara lebih dari satu juta warga mengungsi.
Dampak bencana di Sumatera menunjukkan skala kerusakan yang sangat besar. Di Aceh, tercatat 220 orang meninggal dan 227 lainnya masih hilang. Sumatera Utara melaporkan 234 korban jiwa serta 260 warga hilang. Sementara itu di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal mencapai 299 orang dengan 163 warga dilaporkan hilang.
Kesaksian dari Agam: rumah hilang, keluarga belum ditemukan
Di Kabupaten Agam, duka yang sama dirasakan Abdul Ghani, warga Palembayan, yang hingga kini belum menemukan istrinya, Marsoni. Selama sepekan terakhir, ia terus membawa foto istrinya dan menunjukkannya kepada siapa pun yang ia temui, dari warga hingga tim penyelamat yang menyisir reruntuhan bangunan, menurut laporan Reuters.
“Dia masih hidup atau tidak? Saya rasa tidak,” ucap Ghani lirih. “Tapi saya berharap setidaknya jasadnya ditemukan, walaupun hanya sebagian.”
Ghani sedang bekerja ketika hujan mulai turun deras dan banjir bandang menghantam pemukiman di tepi sungai. Begitu mendapat kabar bahwa enam rumah terseret arus termasuk rumahnya sendiri.
“Saat saya pulang, semuanya sudah rata. Tidak ada yang tersisa,” katanya. “Saya hancur.”
Di tengah tumpukan lumpur dan puing, rasa kehilangan semakin kuat dirasakan warga yang masih mencari keluarga mereka. Namun mereka tetap berharap ada kabar, sekecil apa pun itu.
“Saya hanya ingin dia dimakamkan dengan layak,” kata Ghani tentang istrinya. “Rumah hilang, istri hilang. Saya tidak tahu harus ke mana setelah ini.”













