“Feminisme imperialis” — JK Rowling soroti penindasan di Iran setelah bungkam soal genosida Gaza
DUNIA
6 menit membaca
“Feminisme imperialis” — JK Rowling soroti penindasan di Iran setelah bungkam soal genosida GazaKepekaan moral mendadak novelis Inggris soal protes di Iran kembali memunculkan pertanyaan tentang sikap diamnya terhadap genosida Israel di Gaza yang terkepung.
Saat Rowling menemukan "penindasan" di Iran, para kritikus mengatakan bahwa kebungkamannya tentang genosida Gaza telah berbicara banyak. / Reuters
8 jam yang lalu

Penulis kontroversial asal Inggris, JK Rowling, kembali memicu polemik di ruang publik.

Pekan lalu, saat ia menyatakan dukungan terhadap aksi protes anti-pemerintah di Iran melalui unggahan di platform X, warganet dengan cepat mengingat kembali sikap diamnya terhadap genosida warga Palestina di Gaza yang dilakukan Israel.

“Jika kamu mengaku mendukung hak asasi manusia tetapi tidak sanggup menunjukkan solidaritas kepada mereka yang berjuang demi kebebasan di Iran, maka kamu telah memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya. Kamu tidak peduli pada orang-orang yang ditindas dan diperlakukan secara brutal selama itu dilakukan oleh musuh dari musuhmu,” tulis Rowling, sembari menyindir pihak-pihak yang tidak ikut menyuarakan pesannya.

Unggahan tersebut disertai gambar hasil kecerdasan buatan yang menampilkan seorang perempuan menyalakan rokok menggunakan foto pemimpin Iran yang terbakar. Menariknya, foto perempuan dalam gambar tersebut diambil di Kanada, bukan di Iran.

Namun, kata-kata Rowling—penulis serial Harry Potter yang populer sekaligus dikenal luas karena sikap pro-Israel-nya—lebih terasa sebagai dakwaan ketimbang solidaritas. Sebuah ultimatum moral, di mana sikap netral justru dianggap sebagai bentuk kesalahan.

Respons pun datang dengan cepat. Warganet tidak membela pemerintah Iran. Sebaliknya, mereka melontarkan satu pertanyaan kepada Rowling: ke mana dia selama ini?

Mereka mempertanyakan di mana suara Rowling saat Gaza dihancurkan oleh Israel, atau ke mana perginya urgensi moralnya ketika permukiman diratakan, rumah sakit dibom, dan anak-anak dievakuasi dalam kondisi tak bernyawa dari bawah reruntuhan.

Seorang pengguna X mengingatkan bahwa Rowling “bungkam total saat pembantaian massal bayi di Gaza,” tetapi kini mendadak menemukan “penindasan dan kebrutalan” di Iran.

“Benar-benar memalukan,” tulis pengguna tersebut.

Sejak akhir Desember, Iran dilanda gelombang protes yang bermula di Grand Bazaar Teheran, dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial dan krisis ekonomi yang oleh banyak pihak dikaitkan dengan sanksi Barat. Aksi unjuk rasa kemudian menyebar ke sejumlah kota lain.

Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai “kerusuhan” dan “terorisme”. Di tengah protes, badan intelijen Israel, Mossad, bahkan mengunggah pesan berbahasa Persia yang tidak lazim, menyatakan dukungan kepada para demonstran.

Selama lebih dari dua tahun genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza, Rowling tidak pernah bersuara.

Ia tetap bungkam soal pengepungan brutal, kelaparan, serta pembunuhan warga Palestina. Banyak analis dan penelitian memperkirakan hampir 200.000 warga Palestina telah tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Israel hingga kini masih menduduki hampir setengah wilayah Gaza dan membatasi lebih dari dua juta warga Palestina di area yang tersisa di wilayah yang diblokade dan terus dibombardir, meski melanggar gencatan senjata yang telah disepakati.

Namun, Rowling tak pernah melontarkan unggahan penuh keprihatinan, seruan solidaritas, ataupun peringatan soal keterlibatan moral.

Sebaliknya, sikap diamnya terhadap genosida Gaza dan ceramahnya di media sosial soal Iran justru kini menjadi sorotan tajam.

“Ya, kita harus mendukung perempuan Iran yang dirampas hak asasi manusianya. Namun, feminisme selektif versi Anda bukanlah feminisme. Itu hanyalah sikap sinis untuk menutupi fakta bahwa Anda—dan yang lainnya—telah meninggalkan perempuan dan anak perempuan Palestina di Gaza di tengah genosida yang masih berlangsung,” tulis seorang jurnalis.

Menurutnya, menyoroti penderitaan perempuan kulit berwarna sering kali menjadi bagian dari feminisme kulit putih yang berangkat dari privilese—ketika hal itu mendatangkan keuntungan, pujian, atau status.

“Sampai Anda memahami dan mempraktikkan interseksionalitas, Anda tidak berada pada posisi untuk menguliahi orang lain soal ‘membuka kedok diri sendiri’,” ujarnya.

Pandangan dunia yang terbuka lebar

Kritik semakin menguat ketika warganet menyoroti unggahan lama Rowling yang me-retweet klaim bahwa “warga Iran secara massal menolak Islam dan syariah,” serta memuji para demonstran sebagai “cahaya di dunia yang gelap.”

Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar kesalahan pilihan kata, melainkan cerminan pandangan dunia: pembebasan dianggap sah hanya jika terlepas dari agama, dan perlawanan dipuji hanya jika sejalan dengan ekspektasi Barat.

Iman, perempuan Jerman keturunan Arab, mengatakan kepada TRT World bahwa narasi semacam itu menunjukkan penderitaan siapa yang dianggap layak mendapat simpati.

“Masalah Palestina justru terletak pada keadilan perjuangan mereka,” katanya.

“Elit Barat tidak memiliki keberanian untuk berdiri bersama perjuangan yang adil ini, dan orang Palestina tidak sesuai dengan stereotip yang memancing simpati orang-orang seperti Rowling.”

Elham, perempuan Belgia keturunan Tunisia, menyuarakan pandangan serupa. Menurutnya, identitas—bukan prinsip—sering kali menentukan siapa yang mendapat kemarahan global.

Warga Palestina, katanya, terus diposisikan dalam peran sempit: entah sebagai korban tak berdaya yang menunggu penyelamatan Barat, atau realitas tidak nyaman yang lebih baik diabaikan.

“Masyarakat utuh direduksi menjadi cerita sederhana tentang terang versus gelap,” ujarnya.

Namun, gelombang kritik ini bukan soal teologi. Ini soal etika.

Ujian konsistensi moral

Yang dihadapi Rowling bukanlah penolakan terhadap perjuangan rakyat Iran, melainkan penolakan atas klaim otoritas moralnya. Penolakan terhadap ceramah hak asasi manusia dari mereka yang memilih diam ketika Gaza menderita.

Para pengkritik menyebut sikapnya sebagai feminisme selektif—bersuara lantang ketika korban dapat diterima secara politik, dan mengecilkan suara ketika korbannya adalah warga Palestina yang terkepung dan tak terlindungi secara internasional.

Sebagian menyebutnya lebih tegas: “feminisme imperialis”—bahasa hak perempuan yang muncul hanya ketika sejalan dengan struktur kekuasaan dominan, dan menghilang saat solidaritas menjadi tidak nyaman.

Kemarahan yang bercampur kelelahan

Para pendukung Rowling berargumen bahwa satu ketidakadilan tidak meniadakan ketidakadilan lain. Secara teori, itu benar.

Namun, para pengkritik menilai Rowling tidak menggunakan bahasa empati, melainkan bahasa menghakimi. Ia tidak membangun solidaritas kolektif, melainkan membentuk pengadilan moral.

“Maaf jika kami enggan bergabung dengan kerumunan yang melakukan, menyemangati, atau mendukung genosida, lalu kini gatal menyerukan pergantian rezim di kawasan yang sama,” kata anggota parlemen Inggris, Adnan Hussain.

“Ada sesuatu yang memberi tahu kami bahwa yang mendorong kebangkitan moral mendadak ini bukanlah hak asasi manusia atau kebebasan.”

Ini bukan kali pertama novelis miliarder tersebut dikritik atas solidaritasnya yang selektif.

“Mengapa JK Rowling, yang memposisikan dirinya sebagai pejuang hak perempuan, bungkam soal pembantaian massal, penyiksaan, pengusiran, kehilangan anggota keluarga, kekerasan seksual, dan pemerkosaan terhadap perempuan Palestina?” tanya jurnalis Owen Jones dalam artikelnya pada 2025.

Namun, setelah pernyataannya soal Iran, kemarahan warganet kali ini bercampur dengan kelelahan. Mereka menyoroti hierarki penderitaan, di mana rasa sakit Muslim hanya diakui ketika sesuai dengan narasi yang disetujui.

“Hentikan feminisme selektif ini. Kebangkrutan moral Anda terlihat jelas ketika menyangkut perempuan Palestina,” tulis pengamat politik Bushra Shaikh, menanggapi unggahan Rowling. Ia menegaskan bahwa versi kebebasan ala Rowling “hanya berlaku bagi perempuan yang sesuai dengan ideal liberal Barat—sementara yang lain dianggap bisa dikorbankan.”

SUMBER:TRT World