DUNIA
2 menit membaca
Doctors Without Borders desak RSF izinkan warga sipil mengungsi saat kekerasan meningkat di Sudan
PBB melaporkan hampir 37.000 orang telah melarikan diri dari lima wilayah di timur Darfur setelah pasukan paramiliter merebut benteng terakhir militer Sudan.
Doctors Without Borders desak RSF izinkan warga sipil mengungsi saat kekerasan meningkat di Sudan
Konflik ini telah menewaskan 20.000 orang dan menyebabkan lebih dari 15 juta orang mengungsi. / Reuters
4 November 2025

Organisasi Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières / MSF) menyerukan kepada pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan kelompok bersenjata sekutunya untuk segera mengizinkan warga sipil meninggalkan kota Al Fasher di Sudan, karena situasi di ibu kota Darfur Utara semakin memburuk dan pelanggaran terhadap warga terus meningkat.

“Kami mendesak RSF dan kelompok bersenjata sekutu mereka untuk tidak melibatkan warga sipil dan membiarkan mereka mengungsi dari El Fasher,” kata Michel Olivier Lacharite, kepala penanganan darurat MSF, dalam pernyataan yang diunggah di akun resmi organisasi itu di X pada Minggu.

Ia juga meminta negara-negara anggota quad — Amerika Serikat, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir — untuk menggunakan pengaruh mereka “menghentikan pertumpahan darah” di kota tersebut.

MSF menyatakan tengah memantau situasi dengan cermat dan memperingatkan bahwa komunitas internasional “tidak bisa menutup mata” terhadap krisis kemanusiaan yang semakin parah di Al Fasher.

Upaya mediasi internasional gagal akhiri konflik

Puluhan ribu warga sipil Sudan telah meninggalkan kota dan desa di wilayah luas di timur Darfur, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari seminggu setelah pasukan paramiliter menguasai kota Al Fasher.

Badan migrasi PBB dalam pernyataannya pada Minggu malam mengatakan sekitar 36.825 orang telah mengungsi dari lima wilayah di Kordofan Utara — wilayah yang berjarak beberapa ratus kilometer di timur Darfur — setelah RSF merebut benteng terakhir militer Sudan di daerah itu pekan lalu.

Pada 26 Oktober, RSF mengambil alih kendali kota Al Fasher di negara bagian Darfur Utara dan melakukan pembantaian terhadap warga sipil, menurut laporan organisasi lokal dan internasional. Penguasaan kota itu memicu kekhawatiran akan semakin menguatnya pembagian wilayah Sudan secara geografis.

Sejak 15 April 2023, tentara Sudan dan RSF terjebak dalam perang yang belum berhasil diakhiri meski berbagai upaya mediasi regional dan internasional telah dilakukan.

Konflik tersebut telah menewaskan sekitar 20.000 orang dan membuat lebih dari 15 juta lainnya mengungsi atau kehilangan tempat tinggal, menurut laporan PBB dan sumber lokal.

SUMBER:TRT World & Agencies
Jelajahi
Prabowo tiba di Washington, siap bahas perdagangan dan hadiri KTT BoP Gaza
Durasi waktu puasa yang dijalani umat Muslim selama bulan Ramadan
Bagaimana senjata Israel 'menghancurkan' Palestina dan mengapa itu merupakan kejahatan perang
Konsorsium Irak-UEA berencana membangun jaringan kabel data cepat senilai $700 juta
Konsesi lahan menjadi fokus dalam pembicaraan perdamaian Rusia-Ukraina di Jenewa
Serangan teroris pada pos polisi Pakistan menewaskan dua orang, termasuk seorang anak
Australia menolak pulangkan warga negaranya dari Suriah terkait dugaan hubungan dengan Daesh
Iran menyerukan agar AS bernegosiasi secara independen dari pengaruh Israel
Jepang mulai kembali uji coba operasi di pembangkit nuklir terbesar di dunia
Indonesia terima dua jet T-50i dari Korea Selatan perkuat armada TNI AU
8.000 prajurit disiapkan, Indonesia targetkan kesiapan misi Gaza pada Juni 2026
Prabowo bertolak ke Washington DC, temui Donald Trump bahas kerja sama strategis
Kasus perdata bersejarah menuntut ganti rugi dari militer Myanmar atas genosida Rohingya
Iran menunjukkan kesiapan untuk berkompromi dalam pembicaraan nuklir jika AS cabut sanksi
Jepang mengecam China atas tuduhan kebangkitan militerisme
Ledakan kembang api mematikan guncang China jelang Tahun Baru Imlek
Teheran bentuk komisi pencari fakta setelah ribuan orang tewas dalam aksi protes
Para pemimpin global berkumpul di Munich saat 'politik buldoser' menimbulkan kekhawatiran
Dari pengasingan ke kekuasaan: Tarique Rahman bersiap memimpin Bangladesh sebagai PM
AS kirim kapal induk lainnya ke Timur Tengah di tengah pembicaraan nuklir Iran