Iran memiliki persediaan rudal dan kemampuan untuk melanjutkan serangan balasan meskipun kehilangan komandan-komandan utamanya dalam serangan Israel, menurut seorang mantan pejabat intelijen Israel yang berbicara kepada NBC News.
Pejabat tersebut, yang tidak disebutkan namanya oleh NBC News, menggambarkan sikap Teheran sebagai "kesabaran strategis," dan memperingatkan agar tidak menganggap bahwa pemerintah Iran berada di ambang kehancuran.
"Teheran memiliki tekad dan kemampuan untuk terus melanjutkan serta mempertahankan serangan," kata pejabat tersebut.
Pejabat itu juga menyebutkan bahwa "rudal-rudal Iran yang lebih cepat diluncurkan dalam sehari terakhir telah memberikan waktu persiapan yang lebih sedikit bagi Israel sebelum proyektil mendekati target yang dimaksud."
Ia menambahkan bahwa sistem pertahanan rudal Israel hanya berhasil mencegat 65 persen proyektil Iran dalam 24 jam terakhir—turun dari hampir 90 persen sehari sebelumnya.
Menurutnya, Iran telah mengerahkan rudal yang lebih cepat dan canggih, sehingga waktu peringatan Israel berkurang dari sekitar 10 menit menjadi hanya enam menit, dengan sistem panduan yang ditingkatkan untuk memungkinkan penargetan yang lebih presisi.
"Yang lebih penting, Iran memiliki sistem navigasi untuk fase akhir serangan yang membantu mereka menyerang dengan sangat presisi dan tepat mengenai target yang mereka inginkan, seperti rumah sakit hari ini di Beersheba," tambahnya.
Rudal Baru dan Menunggu keputusan Washington
Tentara Israel mengatakan bahwa Iran menggunakan rudal multi-hulu ledak dalam salah satu serangan terbarunya, yang digambarkan sebagai tantangan baru bagi sistem pertahanan udara mereka.
Radio Tentara mengutip dua sumber keamanan yang mengatakan bahwa rudal yang menghantam Gush Dan terdiri dari beberapa proyektil yang lebih kecil.
Sementara itu, Maariv melaporkan bahwa tentara Israel telah membuka penyelidikan setelah Iran menembakkan hulu ledak yang lebih besar dari rudal Shahab-3.
Menurut surat kabar tersebut, rudal Khorramshahr yang digunakan Iran membawa lebih dari satu ton bahan peledak.
Di tengah eskalasi militer, perhatian tetap tertuju pada Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump mengatakan bahwa ia belum membuat keputusan akhir apakah akan campur tangan secara militer untuk mendukung Israel.
Menurut sumber yang dikutip oleh CBS News, Trump percaya bahwa opsi yang tersedia terbatas, dan menyelesaikan misi akan memerlukan penghancuran fasilitas Fordow milik Iran.
Salah satu kemungkinan yang sedang dipertimbangkan, menurut sumber tersebut, adalah memungkinkan Iran untuk menonaktifkan fasilitas itu sendiri.
Trump dilaporkan menunda keputusan akhir dengan harapan Teheran mungkin setuju untuk meninggalkan program nuklirnya.
Pada hari Kamis, Gedung Putih mengklaim bahwa Iran hanya "beberapa minggu lagi" dari pengembangan senjata nuklir.
Pernyataan ini bertentangan dengan laporan dari IAEA dan intelijen AS, yang menunjukkan bahwa Teheran tidak sedang memproduksi senjata nuklir.













