Indonesia diperkirakan mencatat surplus neraca perdagangan yang lebih besar pada Agustus 2026, seiring dengan proyeksi peningkatan pertumbuhan ekspor dan impor.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom menjelang rilis data resmi pada 1 Oktober, median estimasi dari 17 ekonom menunjukkan ekspor Indonesia pada Agustus tumbuh 4,30 persen secara tahunan.
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekspor pada Juli yang mencapai 6,05 persen.
Di sisi lain, pertumbuhan impor diperkirakan meningkat lebih cepat. Impor pada Agustus diproyeksikan tumbuh 31,14 persen secara tahunan, dibandingkan 27,02 persen pada Juli.
Dengan perkembangan tersebut, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus diperkirakan mencapai sekitar 630 juta dolar AS.
Pada Juli, Indonesia mencatat surplus perdagangan sekitar 130 juta dolar AS. Capaian itu membalikkan defisit yang terjadi dalam dua bulan sebelumnya.
Defisit pada Mei sekaligus mengakhiri rangkaian surplus perdagangan bulanan yang telah berlangsung selama sekitar enam tahun.
Sementara itu, perkembangan inflasi juga menjadi perhatian dalam jajak pendapat Reuters. Survei terhadap 20 ekonom menunjukkan inflasi tahunan pada September diperkirakan meningkat menjadi 3,30 persen dari 3,19 persen pada Agustus.
Meski naik, angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi bank sentral, yakni 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Untuk inflasi inti, rata-rata perkiraan para ekonom berada di level 2,91 persen pada September. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan inflasi inti Agustus yang tercatat sebesar 2,92 persen.





















