Amerika Serikat telah mencabut atau menolak visa sejumlah eksekutif bisnis, pemimpin perusahaan, dan anggota keluarga mereka di India karena dugaan keterlibatan dalam perdagangan prekursor fentanyl, menurut pernyataan resmi.
Orang-orang tersebut kemudian ditolak visanya, kata pernyataan yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar AS di New Delhi pada Kamis, tanpa mengungkap identitas mereka yang dijatuhi sanksi karena dugaan keterkaitan tersebut.
Misi AS di New Delhi menyatakan, “Kami tetap teguh dalam komitmen untuk memerangi perdagangan narkoba ilegal. Individu dan organisasi yang terlibat dalam produksi dan perdagangan narkoba ilegal ke Amerika Serikat, beserta keluarga mereka, akan menghadapi konsekuensi yang dapat mencakup penolakan akses ke Amerika Serikat,” ujar Chargé d’Affaires Kedutaan Besar AS, Jorgan Andrews, seperti dikutip The Times of India.
Langkah ini dilakukan “sejalan” dengan upaya Pemerintahan Trump “untuk menjaga keselamatan warga Amerika dari narkotika sintetis berbahaya,” tambah pernyataan itu.
Kedutaan Besar AS juga memperingatkan bahwa para eksekutif yang terkait dengan perusahaan yang diketahui pernah memperdagangkan prekursor fentanyl akan mendapatkan pengawasan lebih ketat jika mereka mengajukan permohonan visa AS di masa mendatang.
“Menghentikan aliran fentanyl, termasuk prekursor-nya, ke Amerika Serikat adalah salah satu prioritas utama kami. Kami berterima kasih kepada rekan-rekan kami di Pemerintah India atas kerja sama erat dalam menghadapi tantangan bersama ini,” kata pernyataan itu.
Pemerintahan Trump beberapa bulan terakhir telah mengambil tindakan hukuman terhadap China dan Venezuela terkait dugaan perdagangan fentanyl ke AS.
Pada Maret lalu, AS memberlakukan tarif 20 persen atas produk-produk China yang terkait dengan bahan kimia prekursor fentanyl dan rantai pasokan yang digunakan kartel narkoba untuk memproduksi opioid sintetis.






