IKLIM
2 menit membaca
BMKG pantau Bibit Siklon 91S, imbau warga di Sumatera dan Banten tetap siaga
Bibit Siklon 91S diperkirakan bergerak menuju selatan hingga barat daya pada Kamis siang atau sore, sebelum menunjukkan pola pergerakan yang stabil menjauh dari wilayah Indonesia pada 12 Desember 2025.
BMKG pantau Bibit Siklon 91S, imbau warga di Sumatera dan Banten tetap siaga
Aktivitas atmosfer yang sedang menguat berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Sumatera. / Reuters / Reuters

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap Bibit Siklon Tropis 91S yang berada di Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat Lampung. Sistem cuaca ini diperkirakan dapat meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah Sumatera, meski efeknya bersifat tidak langsung.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa aktivitas atmosfer yang sedang menguat berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung. Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.

“Masyarakat juga harus waspada adanya potensi peningkatan tinggi gelombang di Samudra Hindia mulai dari sebelah barat Nias hingga selatan Banten, serta di perairan Selat Sunda bagian Selatan,” ujarnya saat menyampaikan keterangan di Sibolga, Sumatera Utara, pada Rabu.

Siklon tropis

BMKG menilai peluang sistem ini untuk berubah menjadi siklon tropis dan mencapai daratan, sebagaimana yang pernah terjadi pada Siklon Tropis Senyar, berada pada kategori rendah.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa 91S diperkirakan bergerak menuju selatan hingga barat daya pada Kamis siang atau sore, sebelum menunjukkan pola pergerakan yang stabil menjauh dari wilayah Indonesia pada 12 Desember 2025. 

Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan BNPB dan BPBD telah dilakukan untuk memastikan langkah mitigasi sesuai kondisi cuaca yang mungkin terpengaruh oleh keberadaan bibit siklon tersebut.

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, meminta masyarakat di pesisir barat–selatan Sumatera hingga Banten waspadai hujan lebat, angin kencang, serta gelombang tinggi. Sektor kelautan, termasuk pelayaran dan perikanan, diminta menyesuaikan aktivitas berdasarkan peringatan resmi yang berlaku.

BMKG memastikan seluruh informasi terkait perkembangan 91S, peringatan gelombang tinggi, dan pembaruan prakiraan cuaca akan disampaikan melalui kanal resmi secara berkala. 

TerkaitTRT Indonesia - Perubahan iklim picu hujan ekstrem dan banjir mematikan di Asia
SUMBER:TRT Indonesia
Jelajahi
Kabut asap pekat lumpuhkan penerbangan di Riau dan picu udara tidak sehat di Malaysia
Imbas kabut asap Indonesia, Singapura jadi kota paling berpolusi di dunia
Gempa magnitudo 5,2 guncang Lombok Barat, BMKG sebut akibat deformasi batuan
Walhi dan Greenpeace ingatkan Indonesia tetap waspada karhutla meski titik panas turun
Kabut asap karhutla Indonesia selimuti Malaysia dan Singapura, kualitas udara di level tidak sehat
Polusi PM2.5 tinggi, kualitas udara Jakarta terburuk keempat di dunia
Ahli: Indonesia punya peluang besar di COP31 Antalya, Türkiye
Air Waduk Karian surut, Desa Somang yang terendam kembali terlihat
Hujan turun, warga Pontianak bernapas lega lepas dari kabut asap karhutla
Musim kemarau picu kekeringan, warga dan lahan pertanian di Bekasi terdampak
Gunung Semeru erupsi enam kali, kolom abu capai 900 meter
AQI Jakarta capai 159, kebakaran hutan Indonesia perburuk kualitas udara di Asia Tenggara
BMKG perkirakan musim hujan di Indonesia mundur ke awal November akibat El Nino
Banjir bandang terjang Solok, satu orang dilaporkan hilang
Karhutla Indonesia berpotensi berlanjut hingga awal November – Kemenhut
BNPB siapkan 3 ton garam untuk operasi modifikasi cuaca atasi karhutla dan kabut asap di Kaltim
Kebakaran hutan terburuk dalam 11 tahun perparah krisis ISPA di Kalimantan
BPBD catat 2.676 karhutla di Sumsel hingga September, 15 daerah masuk zona merah
AQI Jakarta capai 158, kualitas udara masuk empat terburuk dunia
Pemantauan kabut asap tunjukkan dampak karhutla Indonesia di Asia Tenggara