Rencana Indonesia untuk menerapkan kewajiban biodiesel B50 masih ditentukan oleh dinamika harga global, khususnya selisih antara minyak mentah dan minyak sawit mentah (CPO), kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa (13/1).
Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia telah menyatakan target memulai mandat B50—campuran 50% bahan bakar berbasis sawit dan 50% solar—pada paruh kedua 2026. Hingga saat ini, kebijakan yang berlaku adalah B40, yakni biodiesel dengan kandungan sawit 40%.
Program biodiesel Indonesia didukung subsidi yang bersumber dari pungutan ekspor minyak sawit.
Besaran subsidi tersebut sangat dipengaruhi oleh perbedaan harga antara minyak mentah dan CPO. Dalam kondisi selisih harga yang melebar, beban subsidi cenderung meningkat.
“Tahun ini, arahan Presiden adalah mempertahankan B40,” ujar Menko Airlangga Hartarto.
Menurutnya, evaluasi menuju B50 terus dilakukan sambil memantau pergerakan harga minyak mentah dan CPO. “Kami menyiapkan implementasi pada semester kedua, namun dengan kondisi harga saat ini, arahan Presiden adalah tetap di B40, sambil bersiaga untuk B50,” tambahnya.

Pasar menunjukkan tekanan pada sisi biaya.
Pada Selasa (13/1), kontrak berjangka CPO Malaysia untuk pengiriman Februari diperdagangkan dengan premi sekitar US$370 per metrik ton dibandingkan kontrak berjangka gasoil ICE Brent untuk periode yang sama. Premi tersebut melebar dari kisaran sekitar US$300 per metrik ton pada Oktober dan November tahun lalu.
Untuk tahun berjalan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia telah menetapkan alokasi biodiesel berbasis sawit sebesar 15,65 juta kiloliter. Dari jumlah tersebut, sekitar 7,45 juta kiloliter akan disubsidi melalui dana perkebunan nasional.
Menko Airlangga juga mengatakan pemerintah masih melakukan pengujian terkait dampak penggunaan biodiesel terhadap mesin kendaraan. Sementara itu, Kementerian ESDM sebelumnya menyebut Indonesia kemungkinan akan menaikkan pungutan ekspor minyak sawit guna menopang pembiayaan program.
Keputusan mengenai penyesuaian pungutan tersebut diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan, pungkas Airlangga.












