Dalam gambar: Warga Palestina di Gaza gelar pernikahan massal di tengah gencatan senjata yang rapuh
PERANG GAZA
2 menit membaca
Dalam gambar: Warga Palestina di Gaza gelar pernikahan massal di tengah gencatan senjata yang rapuhSebanyak 54 pasangan menikah dalam acara pernikahan massal di antara puing-puing Khan Younis, yang hancur akibat serangan Israel.
Pasangan Palestina berpartisipasi dalam upacara pernikahan massal di Kota Hamad, Khan Younis. / AP
3 Desember 2025

Eman Hassan Lawwa mengenakan busana bercorak tradisional Palestina, sementara Hikmat Lawwa memakai setelan jas saat mereka berjalan beriringan melewati bangunan-bangunan runtuh di Gaza selatan, bergabung dengan deretan pasangan lain yang berpakaian serupa.

Pasangan berusia 27 tahun itu termasuk di antara 54 pasangan yang menikah pada Selasa dalam pernikahan massal di wilayah yang terkepung—sebuah momen langka penuh harapan setelah dua tahun kekerasan brutal.

“Meski semua ini terjadi, kami akan memulai hidup baru,” kata Lawwa. “Insya Allah, ini akan menjadi akhir dari perang.”

Pernikahan merupakan bagian penting dalam budaya Palestina, namun menjadi sangat jarang digelar di Gaza selama serangan Israel. Tradisi itu mulai kembali muncul berkat gencatan senjata yang rapuh, meski bentuk perayaannya jauh berbeda dari pesta megah yang dulu biasa dilangsungkan di wilayah tersebut.

Ketika kerumunan besar mengibarkan bendera Palestina di Kota Khan Younis, suasana perayaan tetap dibayang-bayangi krisis yang terus berlangsung. Sebagian besar dari 2 juta penduduk Gaza—termasuk Eman dan Hikmet—telah mengungsi akibat serangan Israel. Seluruh kawasan kota hancur rata, sementara kekurangan bantuan serta kekerasan yang terus terjadi membuat kehidupan sehari-hari kian sulit.

“Kami ingin bahagia seperti orang lain di dunia. Dulu saya bermimpi punya rumah, pekerjaan, dan hidup seperti orang lain,” kata Hikmet. “Hari ini, mimpi saya hanyalah menemukan tenda untuk ditinggali.”

“Kehidupan memang mulai kembali, tapi tidak seperti yang kami harapkan,” tambahnya.

Perayaan ini disponsori oleh Al Fares Al Shahim. Selain menyelenggarakan acara, organisasi tersebut memberikan sejumlah uang dan bantuan lain untuk membantu para pasangan memulai hidup baru.

Bagi warga Palestina, pernikahan biasanya merupakan perayaan besar yang berlangsung sepanjang hari, dilihat sebagai pilihan sosial dan ekonomi penting bagi keluarga. Acara itu sering diwarnai tarian, arak-arakan di jalanan bersama keluarga besar dengan pakaian bermotif khas, serta hidangan makanan dalam porsi besar.

Berikut sejumlah foto dari perayaan pernikahan tersebut:

SUMBER:TRT World & Agencies