Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk menghormati dan melindungi seluruh investasi saat meresmikan sejumlah proyek industri berbasis nikel dan aluminium senilai miliaran dolar di kawasan industri Weda Bay, Maluku Utara, Kamis (8/10).
Dalam acara tersebut, Prabowo meresmikan operasional komersial sejumlah fasilitas industri sekaligus pembangunan proyek baru yang sebagian berada di bawah kendali Tsingshan Holding Group, perusahaan baja asal China.
Ia juga melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik yang diproduksi REPT Battero.
“Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menghormati dan melindungi semua investasi, dari mana pun asalnya,” kata Prabowo. Ia menambahkan bahwa menjaga kemitraan dengan para investor merupakan kehormatan bagi Indonesia.

Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menarik investasi besar ke sektor pengolahan dan peleburan logam, terutama dari perusahaan China, berkat cadangan nikel yang merupakan terbesar di dunia. Namun, sejumlah pelaku usaha belakangan mengkhawatirkan kebijakan kuota pertambangan, kenaikan pajak dan formula harga baru yang dinilai meningkatkan biaya investasi.
Pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah pada 2020 untuk mendorong pengolahan di dalam negeri. Kebijakan tersebut membuat Indonesia menjadi eksportir produk nikel terbesar dunia dengan sekitar 60 persen pasokan global, sementara nilai ekspornya meningkat dari $3,3 miliar pada 2017 menjadi lebih dari $33 miliar pada 2024.
Menteri Investasi Rosan Roeslani mengatakan empat proyek yang diluncurkan bernilai $3,4 miliar, sedangkan investasi untuk enam proyek lainnya diperkirakan mencapai $6,8 miliar.
Proyek-proyek baru itu mencakup produksi bahan baku baterai berbasis nikel, komponen baterai dan kaca fotovoltaik untuk panel surya, serta dua fasilitas pengolahan aluminium. Sejumlah perusahaan yang terlibat antara lain PT Guang Ching Nickel Cobalt, PT Weda Bay Aluminium dan PT Flatsolar Energy Indonesia.


















