Paus Leo XIV dalam kunjungannya pada hari Kamis menegaskan bahwa Türkiye memiliki peran strategis bagi masa kini dan masa depan kawasan Mediterania serta dunia yang lebih luas, sambil memuji kemampuan negara itu merawat keberagaman internalnya.
Dalam pernyataan bersama Presiden Recep Tayyip Erdogan di Ankara, Paus mengatakan bahwa logo kunjungannya—gambar jembatan di Selat Dardanella—secara kuat melambangkan posisi Türkiye sebagai penghubung antara Asia dan Eropa.
Ia menekankan bahwa keragaman dalam negeri merupakan salah satu kekuatan utama Türkiye, “jembatan yang menghubungkan Türkiye dengan dirinya sendiri,” di tengah meningkatnya polarisasi global yang memecah masyarakat di banyak negara.
Paus menilai bahwa identitas dan karakter regional Türkiye mencerminkan “persimpangan kepekaan,” dan menambahkan bahwa keseragaman justru dapat “memiskinkan” masyarakat mana pun.
Ia juga menyoroti kehadiran komunitas Kristen di Türkiye, yang menurutnya ingin berkontribusi positif bagi persatuan nasional dan “merasa menjadi bagian dari identitas Türkiye.” Paus turut memuji peran keluarga yang tetap kuat dalam budaya Türkiye, diperkuat oleh berbagai kebijakan yang menjaga posisi sentralnya.

Dalam pidatonya, Paus Leo juga menyampaikan harapan agar Türkiye terus menjadi sumber stabilitas di kawasan dan memainkan peran konstruktif dalam mendekatkan masyarakat demi “perdamaian yang adil dan berkelanjutan.”
Ia mengingatkan bahwa kunjungan empat paus sebelumnya menunjukkan hubungan baik Vatikan dengan Türkiye serta keinginan untuk bekerja sama dalam membangun dunia yang lebih baik.
Ia menyinggung peringatan 1.700 tahun Konsili Nicaea, yang digelar pada 325 M di wilayah yang kini dikenal sebagai İznik, sekaligus mencatat bahwa delapan konsili ekumenis pertama Gereja Katolik berlangsung di wilayah Türkiye modern, menegaskan sejarah panjang dialog dan pertemuan lintas tradisi.
Paus juga memperingatkan bahwa meningkatnya konflik global berpotensi membuka jalan menuju perang dunia ketiga.
Menurutnya, “masa depan umat manusia sedang dipertaruhkan” di tengah strategi ekonomi dan militer yang mendominasi hubungan internasional. Ia mengatakan bahwa ketegangan geopolitik saat ini mengalihkan fokus dari tantangan mendesak seperti perdamaian, penanggulangan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, serta perlindungan lingkungan.
Paus Leo menegaskan bahwa Vatikan—mengandalkan kekuatan spiritual dan moralnya—siap bekerja sama dengan negara mana pun yang berkomitmen pada pembangunan manusia yang bermartabat.



















