Opini
DUNIA
5 menit membaca
Ukraina unjuk kekuatan drone dalam perang asimetris melawan Rusia
Meski memiliki keunggulan militer yang jauh lebih besar, Rusia masih kesulitan menaklukkan Ukraina yang mengandalkan drone untuk menyerang titik-titik vital.
Ukraina unjuk kekuatan drone dalam perang asimetris melawan Rusia
Tekanan ekonomi dan frustrasi publik bisa memaksa Rusia meninjau kembali strateginya. / AP

Serangan drone Ukraina ke sejumlah kilang minyak Rusia dalam beberapa waktu terakhir memaksa beberapa fasilitas menghentikan operasinya untuk menjalani perawatan.

Sebagai respons, Moskow secara berkala memberlakukan pembatasan guna menstabilkan pasokan bahan bakar. Pembatasan penjualan BBM juga diterapkan di sejumlah wilayah Rusia, termasuk Krimea yang dianeksasi Rusia pada 2014.

Bulan lalu, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengklaim pasukannya berhasil menyerang 16 kilang minyak utama dan terminal bahan bakar Rusia, sehingga lebih dari 30 persen kapasitas pengolahan minyak negara itu tidak dapat beroperasi.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengumumkan bahwa negaranya mulai menggunakan cadangan bahan bakar seiring meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.

Putin menambahkan Moskow tengah mempertimbangkan larangan ekspor solar, setelah sebelumnya memberlakukan pembatasan sementara terhadap ekspor bensin dan bahan bakar jet demi menjaga pasokan dalam negeri.

Padahal, Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dengan produksi sekitar 9-10 juta barel per hari, menempati peringkat ketiga setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Untuk pertama kalinya, warga Moskow dan sejumlah kota besar lainnya mulai merasakan dampak langsung perang dalam skala sebesar ini.

Di sisi lain, bagi negara yang ekonominya sudah berada di bawah tekanan berat, pembatasan ekspor bahan bakar memunculkan pertanyaan besar: sampai kapan Rusia mampu mempertahankan perang yang sangat bergantung pada pendapatan sektor energi, yang menyumbang sekitar 25 persen anggaran federalnya?

Murah, efektif, dan mandiri

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa dalam setahun terakhir, drone jarak jauh Ukraina telah menghantam lebih dari 356.000 target di wilayah Rusia.

Tanda nyata transformasi teknologi militer Ukraina mulai terlihat dalam Operasi "Spiderweb" pada Juni 2025. Dalam operasi tersebut, Ukraina melancarkan serangan drone jarak jauh secara serentak ke beberapa pangkalan udara Rusia yang berada jauh di dalam wilayah negara itu.

Operasi tersebut dilaporkan hanya menggunakan 117 drone FPV (first-person view) dengan total biaya sekitar 117 ribu dolar AS, tetapi mampu merusak atau menghancurkan lebih dari 40 pesawat Rusia yang nilainya diperkirakan melampaui 7 miliar dolar AS.

Sepanjang 2025, Rusia meluncurkan lebih dari 54.000 drone tipe Shahed ke Ukraina. Drone yang dirakit dari komponen komersial itu diperkirakan bernilai hingga 50 ribu dolar AS per unit.

Setiap peluncuran memaksa Ukraina melakukan intersepsi. Namun, meniru sistem pertahanan udara mahal buatan Barat bukanlah pilihan realistis sehingga Kyiv memilih mengembangkan teknologi sendiri.

Langkah itu tidak mudah. Belanja militer Ukraina diperkirakan mencapai sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB), jauh di atas Rusia yang berada di kisaran 7,5 persen.

Meski demikian, karena total anggaran pertahanan Ukraina masih kurang dari separuh milik Rusia, Kyiv dituntut berinovasi lebih cepat dan memproduksi persenjataan secara lebih efisien.

Salah satu contohnya adalah drone pencegat Sting yang dikembangkan militer Ukraina untuk menghadapi drone Shahed.

Keunggulan Sting bukan hanya pada kemampuannya mencegat drone lawan, tetapi juga efisiensi biayanya.

Satu unit Sting diperkirakan hanya berharga sekitar 2.500 dolar AS. Sebagai perbandingan, satu rudal pencegat Patriot buatan Amerika Serikat yang memiliki fungsi serupa bernilai lebih dari 3 juta dolar AS, serta membutuhkan waktu, infrastruktur, dan sumber daya yang jauh lebih besar untuk diproduksi dan dioperasikan.

Ukraina menjadi kekuatan besar drone

Perkiraan jumlah korban dalam perang ini masih bervariasi. Namun, salah satu estimasi terbaru yang didukung Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut sekitar 1,2 juta tentara Rusia dan hingga 600.000 personel Ukraina menjadi korban sejak invasi skala penuh Rusia dimulai.

Dengan jumlah penduduk sekitar 140 juta jiwa, Rusia memiliki populasi hampir tiga kali lipat dibandingkan Ukraina yang sebelum perang berpenduduk sekitar 40 juta jiwa. Karena itu, Ukraina tidak mungkin menutup kesenjangan tersebut hanya dengan mengandalkan jumlah personel, melainkan melalui keunggulan teknologi.

Pada peringatan Hari Pembuat Senjata Ukraina pada April lalu, Zelenskyy memamerkan lebih dari 30 jenis drone, menegaskan bahwa sistem tanpa awak kini menjadi tulang punggung strategi perang negaranya.

Lonjakan produksi drone FPV menjadi bukti perubahan tersebut. Produksi tahunan Ukraina meningkat dari sekitar 5.000 unit pada 2022 menjadi sekitar tiga juta unit pada 2025.

Memasuki awal 2026, industri pertahanan Ukraina telah memiliki kapasitas memproduksi lebih dari delapan juta drone FPV setiap tahun, menjadikannya salah satu kekuatan terbesar dalam teknologi drone.

Penggunaan drone secara masif kini tidak lagi terbatas pada pertahanan udara, tetapi juga memainkan peran penting dalam operasi ofensif di darat.

Drone FPV, yakni pesawat tanpa awak berukuran kecil yang dikendalikan dari jarak jauh melalui headset dengan tayangan video langsung dari kamera, memungkinkan satu operator mengarahkan drone secara presisi ke target.

Dengan biaya produksi sekitar 300 hingga 400 dolar AS per unit, drone ini menjadi salah satu solusi bagi Ukraina untuk mengatasi kekurangan amunisi artileri.

Sistem drone jarak jauh buatan dalam negeri juga memungkinkan Kyiv menyerang target jauh di wilayah Rusia tanpa memerlukan izin dari sekutu Barat, yang selama ini kerap enggan mengizinkan penggunaan senjata bantuan mereka untuk menyerang wilayah Rusia.

Selain itu, Kyiv kini mampu memproduksi rudal jelajah buatannya sendiri, Flamingo, yang memiliki jangkauan hingga 3.000 kilometer, bahkan lebih jauh dibandingkan rudal Tomahawk milik Amerika Serikat.

Dari meminta bantuan menjadi pemberi bantuan

Belum lama ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada Zelenskyy di Ruang Oval bahwa Ukraina tidak memiliki "kartu" yang cukup untuk memenangkan perang. Pernyataan itu saat itu dipandang sebagai momen yang mempermalukan Kyiv.

Namun kini situasinya dinilai mulai berubah. Amerika Serikat, yang menghentikan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina di bawah pemerintahan Trump, justru meminta dukungan Kyiv untuk membantu melindungi pangkalan militer AS di kawasan Teluk dari potensi serangan balasan Iran.

Perang kini bukan lagi semata soal perebutan wilayah. Konflik semakin ditentukan oleh kemampuan beradaptasi secara teknologi, daya tahan ekonomi, serta kemampuan membebankan biaya kepada lawan jauh dari garis depan.

Apabila Ukraina mampu mempertahankan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dalam skala seperti sekarang, tekanan terhadap Moskow diperkirakan akan terus meningkat.

Kekecewaan publik dapat bertambah, tekanan ekonomi semakin berat, dan Rusia pada akhirnya bisa dipaksa meninjau kembali sejumlah keuntungan yang telah diraih dengan biaya besar di medan perang. Kondisi tersebut juga berpotensi memberikan dorongan baru bagi negosiasi damai antara kedua pihak yang sempat mengalami kebuntuan.

SUMBER:TRT World
Jelajahi
Emine Erdogan pimpin seruan Ibu Negara untuk kerangka kerja PBB lindungi anak di dunia maya
Jakarta naik ke peringkat 140 kota dunia dalam Global Cities Index 2026
Ganda putra bulu tangkis raih emas ketiga, Indonesia peringkat 15 klasemen sementara Asian Games
Indonesia perluas jejaring halal global lewat kerja sama dengan empat lembaga
Indonesia perkuat kerja sama dagang dengan negara-negara Afrika melalui pelatihan SSTC
Indonesia tegaskan perlindungan warga sipil dalam hak jawab di Sidang Majelis Umum PBB
Pemimpin Arab sampaikan belasungkawa atas tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8
TNI AL terima 12 AAV-M35 dari AS, akan terima total 105 ranpur amfibi bertahap hingga 2028
Indonesia maju sebagai kandidat anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB 2029–2030
Menlu Sugiono: Palestina menjadi ujian bagi hati nurani dan sistem multilateral
IUCN: Kebakaran hutan mengancam orangutan Kalimantan
Indonesia dorong penguatan keterkaitan laut dan iklim menuju COP31
Indonesia tandatangani konvensi siber PBB, perkuat kerja sama lawan kejahatan siber
Indonesia taklukkan China 3-2, tim bulu tangkis putra raih emas Asian Games setelah 28 tahun
BNN Indonesia dan Australia perpanjang kerja sama pemberantasan narkoba hingga 2031
Kapal Garibaldi resmi jadi KRI Sriwijaya-100, Indonesia siapkan modernisasi
Indonesia perkuat diplomasi bilateral di Sidang Umum PBB
Indonesia dorong perlindungan anak dari risiko AI di forum PBB
Indonesia percepat penyelesaian IEU-CEPA untuk buka akses pasar Eropa
Indonesia dan Prancis perkuat kerja sama pertahanan serta industri militer