Türkiye tingkatkan diplomasi saat kebuntuan AS–Iran mengancam perdamaian kawasan
DUNIA
5 menit membaca
Türkiye tingkatkan diplomasi saat kebuntuan AS–Iran mengancam perdamaian kawasanHubungan seimbang Ankara dengan Washington dan Teheran menempatkannya pada posisi strategis untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dan mencegah perang terbuka, kata para analis.
Türkiye menggunakan berbagai saluran diplomatik untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut. / TRT World and Agencies
14 jam yang lalu

Türkiye muncul sebagai salah satu penengah perdamaian utama yang berfokus mencegah pecahnya perang regional, di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dikhawatirkan dapat berubah menjadi konflik berskala besar.

Seiring Presiden AS Donald Trump meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memperingatkan potensi perang yang lebih luas, Ankara mengambil peran aktif memfasilitasi dialog antara Washington dan Teheran.

Trump mengancam akan melakukan intervensi militer jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan nuklir baru atau menghentikan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa Iran yang menuntut perbaikan kondisi ekonomi.

Sebagai tindak lanjut, AS mengerahkan tambahan aset angkatan laut ke kawasan, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln.

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan untuk berunding jika pembicaraan berlangsung “adil dan setara”, sambil menolak tuntutan maksimal AS serta menetapkan angkatan bersenjata Uni Eropa sebagai “kelompok teroris”.

Dalam konteks tersebut, Türkiye menawarkan diri sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menlu Türkiye Hakan Fidan pekan lalu. Dalam pertemuan itu, Fidan menegaskan penolakan terhadap aksi militer terhadap Iran dan menyatakan dukungan pada penyelesaian damai konflik.

Presiden Recep Tayyip Erdogan juga secara langsung menyampaikan kesiapan Türkiye untuk memediasi melalui percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Secara terpisah, Erdogan berbicara dengan Trump dan menawarkan untuk menjadi tuan rumah telekonferensi antara kedua negara guna meredakan ketegangan.

Sekutu regional seperti Qatar turut bergabung dalam upaya membuka jalur diplomasi dan mendorong negosiasi.

Para analis menilai hubungan seimbang Türkiye dengan AS dan Iran membuat Ankara mampu menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dan mencegah eskalasi.

Gokhan Ereli, peneliti independen berbasis di Ankara, mengatakan kepada TRT World bahwa Türkiye memanfaatkan berbagai saluran diplomatik untuk membantu meredakan konflik.

Alih-alih mengandalkan pertemuan terpisah, Türkiye telah “menginstrumentalisasi saluran yang saling tumpang tindih” seperti pertemuan tatap muka, diplomasi telepon, serta konsultasi paralel dengan pejabat AS di Ankara, bahkan ketika retorika publik kian mengeras, ujarnya.

Pendekatan sistematis ini, lanjut Ereli, mencerminkan upaya inovatif Türkiye dalam mencari “format fleksibel” seperti usulan pertemuan trilateral yang dapat “menurunkan ketegangan tanpa memaksa salah satu pihak untuk langsung mengalah”.

Ereli menilai upaya tersebut tinggi nilainya dari sisi capaian non-material. Meski belum ada kesepakatan resmi dan konfrontasi AS–Iran masih berlangsung, diplomasi Türkiye dinilai berhasil menjaga dialog tetap hidup, mencegah terputusnya komunikasi total, serta memosisikan Ankara sebagai penghubung aktif, bukan sekadar penonton.

“Menjaga percakapan mungkin terlihat sederhana, tetapi sering kali itulah garis tipis yang memisahkan ketegangan terkelola dari konfrontasi terbuka,” katanya.

‘Jalur penyelamat vital’ bagi Teheran

Koordinasi Türkiye dengan kekuatan regional lain semakin memperkuat efektivitasnya sebagai penengah perdamaian.

Ereli menyoroti keselarasan Ankara dengan negara-negara seperti Qatar dan Arab Saudi, yang didorong oleh “kekhawatiran bersama bahwa perang akan semakin mengguncang tatanan kawasan yang sudah rapuh”.

Negara-negara tersebut, kata Ereli, tidak digerakkan oleh kedekatan dengan Iran, melainkan oleh ketakutan akan “dampak limpahan yang tak terkendali” jika eskalasi terjadi.

Türkiye juga meningkatkan dialog keamanan dengan Arab Saudi, sembari bekerja sama erat dengan Qatar dan Oman untuk mencegah serangan militer terhadap Iran.

Faktor geografis turut memainkan peran penting dalam krisis ini. Perbatasan Türkiye–Iran sepanjang 560 kilometer serta kedekatan maritim Qatar membuat kedua negara sangat rentan, ujar Ereli.

Melalui lobi diplomatik, peringatan terbuka, dan upaya di balik layar, negara-negara tersebut berusaha mengarahkan fokus AS ke pendekatan yang lebih menahan diri.

Oral Toga, peneliti di Centre for Iranian Studies yang berbasis di Ankara, mengatakan kepada TRT World bahwa Teheran memandang mediasi Türkiye sebagai jalur penyelamat yang vital.

Berupaya mencegah perang terbuka, Iran melihat dorongan Türkiye untuk dialog trilateral sebagai “jendela peluang”, katanya.

“Usulan ini kemungkinan akan disambut oleh faksi-faksi di Iran yang berpandangan realistis,” ujarnya. Meski bisa membuat kalangan konservatif resah, usulan tersebut dinilai tetap dapat diterima mengingat “beratnya situasi saat ini dan kekhawatiran terhadap kelangsungan nasional”.

Toga menekankan adanya unsur kepercayaan dalam dinamika ini. Hubungan Türkiye–Iran, katanya, “dibentuk oleh kebutuhan realitas geopolitik”, dengan sejarah kerja sama dan ketergantungan timbal balik yang menumbuhkan ketulusan.

Ia menyebut bukti kepercayaan itu terlihat dari keterlibatan berkelanjutan Araghchi dengan Türkiye, baik sebelum maupun setelah perang 12 hari, ketika AS bergabung dengan Israel dalam serangan mendadak terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

Kepercayaan tersebut memperkuat peran Türkiye, tercermin dalam percakapan telepon terbaru Erdogan dengan Pezeshkian, di mana Ankara kembali menegaskan posisinya sebagai fasilitator.

Toga juga mengingatkan potensi risiko jika mediasi gagal. Meski migrasi bukan kekhawatiran utama karena karakter perbatasan yang bergunung, eskalasi konflik dapat mengganggu kerja sama energi, pariwisata, serta stabilitas kawasan secara lebih luas, dengan dampak hingga ke negara-negara dari Teluk hingga Asia Tengah.

TerkaitTRT Indonesia - Turkiye campur tangan: Bagaimana diplomasi Erdogan bantu hadirkan gencatan senjata tersulit di Gaza

Ankara sebagai ‘penstabil kawasan’

Matthew Bryza, mantan Duta Besar AS untuk Azerbaijan dan pakar urusan Eurasia yang berbasis di Istanbul, mengatakan kepada TRT World bahwa upaya perdamaian Türkiye sejalan dengan etos kebijakan luar negeri inti negara tersebut.

Ia menarik paralel dengan periode 2002–2003, ketika Türkiye menasihati AS agar tidak menginvasi Irak dan memperingatkan potensi instabilitas kawasan—nasihat yang diabaikan AS dengan konsekuensi besar.

Saat ini, kata Bryza, Trump “mendengarkan Presiden Erdogan”, begitu pula Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada Menlu Hakan Fidan, karena adanya “rasa hormat” yang dimiliki para pemimpin AS terhadap mitra mereka dari Türkiye.

Meski Trump disebut ingin “menghancurkan kemampuan produksi rudal balistik Iran” dan pertahanan udaranya untuk menjaga opsi tanpa invasi, Bryza menggambarkan peran Türkiye sebagai diplomasi krisis yang berfokus pada persuasi, bukan strategi jangka panjang.

Bryza mencatat sambutan positif Teheran terhadap mediasi Türkiye, meski pemerintahan Trump belum berkomitmen pada proses formal seperti pertemuan trilateral.

Yang tak kalah penting, pergerakan militer AS belakangan—termasuk pengerahan USS Abraham Lincoln—tidak mengindikasikan kampanye besar dalam waktu dekat, sehingga memberi ruang bernapas bagi upaya Türkiye, ujarnya.

Ia menepis keterkaitan dengan NATO, menegaskan bahwa langkah Türkiye berangkat dari status inherennya sebagai kekuatan regional.

Ereli menambahkan bahwa Ankara mengaitkan stabilitas Iran dengan keamanan nasionalnya sendiri serta keseimbangan kekuatan di Timur Tengah secara luas.

Ankara, katanya, menjalankan “kebijakan luar negeri multi-vektor” yang menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dengan berbagai aktor.

“Dengan mengadvokasi dialog dan menawarkan diri sebagai mediator, Türkiye memperkuat perannya sebagai penstabil kawasan yang kehadirannya sulit diabaikan.”

SUMBER:TRT World