DUNIA
3 menit membaca
Jenderal tertinggi India akui kehilangan Jet tempur dalam bentrokan dengan Pakistan
Pernyataan dari Kepala Staf Pertahanan Jenderal Anil Chauan merupakan pengakuan paling terbuka sejauh ini dari seorang pejabat India mengenai kerugian udara selama konfrontasi pada 7 Mei.
Jenderal tertinggi India akui kehilangan Jet tempur dalam bentrokan dengan Pakistan
Jenderal berpangkat tertinggi di India Anil Chauhan mengatakan prioritas militer India adalah belajar dari insiden tersebut. / Reuters

Komandan militer tertinggi India untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa negara tersebut kehilangan beberapa jet tempur selama pertempuran singkat namun intens dengan Pakistan pada bulan Mei, Bloomberg TV melaporkan, meskipun ia menolak untuk mengonfirmasi jumlahnya dan membantah anggapan bahwa konflik tersebut mendekati eskalasi menuju konfrontasi nuklir.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV di sela-sela Dialog Shangri-La di Singapura, Kepala Staf Pertahanan Jenderal Anil Chauhan menekankan pentingnya memahami situasi di balik kehilangan pesawat tersebut daripada sekadar jumlahnya.

"Yang penting bukan berapa banyak jet yang jatuh, tetapi alasan di balik itu," kata Chauhan. Jenderal tertinggi India itu menyebut klaim Pakistan yang menyatakan telah menembak jatuh enam jet India sebagai "sepenuhnya salah", namun ia menolak untuk mengungkapkan jumlah kerugian sebenarnya dari pihak India.

Chauhan mengatakan bahwa prioritas militer India adalah belajar dari insiden tersebut. "Kami mengidentifikasi kesalahan taktis, memperbaikinya dengan cepat, dan dalam dua hari, melanjutkan operasi dengan serangan presisi jarak jauh," katanya, seraya menambahkan bahwa Angkatan Udara India "menerbangkan semua jenis pesawat dengan semua jenis persenjataan pada tanggal 10 Mei."

India sebelumnya menyatakan bahwa misil dan drone mereka menyerang setidaknya delapan pangkalan udara Pakistan di seluruh negeri pada hari itu, termasuk satu yang dekat dengan ibu kota Islamabad. Militer Pakistan mengatakan bahwa India tidak lagi menerbangkan jet tempurnya dalam konflik setelah mengalami kerugian pada 7 Mei.

Pernyataan Chauhan ini menjadi pengakuan paling terbuka sejauh ini dari seorang pejabat India terkait kerugian udara dalam konfrontasi 7 Mei, yang sebelumnya tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh New Delhi.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa enam pesawat tempur India telah ditembak jatuh—sebuah pernyataan yang belum diverifikasi oleh sumber independen dan sebelumnya tidak ditanggapi langsung oleh otoritas India hingga saat ini.

TerkaitTRT Global - Bagaimana China membangun J-10C, pesawat tempur Pakistan yang menantang Rafale India

Tidak ada kekhawatiran nuklir

Beberapa serangan terjadi di pangkalan dekat fasilitas nuklir Pakistan, tetapi fasilitas tersebut sendiri tidak menjadi target, menurut laporan media.

Chauhan dan Ketua Kepala Staf Gabungan Pakistan, Jenderal Sahir Shamshad Mirza, keduanya mengatakan bahwa tidak ada ancaman pada saat konflik bahwa senjata nuklir akan dipertimbangkan.

"Saya pikir ada banyak ruang sebelum ambang batas nuklir itu dilanggar, banyak sinyal sebelum itu, saya pikir tidak ada hal seperti itu yang terjadi," kata Chauhan dalam wawancara terpisah dengan Reuters.

"Menurut pandangan pribadi saya, orang-orang yang paling rasional adalah mereka yang berseragam ketika konflik terjadi. Selama operasi ini, saya melihat kedua belah pihak menunjukkan banyak rasionalitas dalam pemikiran maupun tindakan mereka. Jadi mengapa kita harus berasumsi bahwa dalam domain nuklir akan ada ketidakrasionalan dari pihak lain?"

Chauhan juga mengatakan bahwa meskipun Pakistan memiliki aliansi erat dengan China, yang berbatasan dengan India di utara dan timur, tidak ada tanda-tanda bantuan nyata dari Beijing selama konflik.

"Saat ini berlangsung sejak (April) tanggal 22, kami tidak menemukan aktivitas yang tidak biasa di kedalaman operasional atau taktis perbatasan utara kami, dan semuanya secara umum baik-baik saja," katanya.

Pertempuran terberat dalam beberapa dekade antara India dan Pakistan yang bersenjata nuklir dipicu oleh serangan pada 22 April di Kashmir yang dikelola India yang menewaskan 26 orang, sebagian besar adalah wisatawan. New Delhi menyalahkan insiden tersebut pada "teroris" yang didukung oleh Pakistan, tuduhan yang dibantah oleh Islamabad, yang menyerukan penyelidikan secara independen.

Gencatan senjata diumumkan pada 10 Mei setelah pertempuran sengit di mana kedua belah pihak menggunakan jet tempur, misil, drone, dan artileri.

SUMBER:TRT World & Agencies
Jelajahi
Indonesia-Arab Saudi sepakati kerja sama investasi strategis melalui penanaman modal
Kedubes Iran respon pernyataan Prabowo, tegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai
Menhan RI dan Thailand perkuat kerja sama pertahanan, sepakati latihan pasukan khusus
Peluang besar UMKM lokal, Kemenhaj bidik pasar rantai pasok haji di Arab Saudi
Kemenlu AS akan tutup konsulat di Medan dan 4 negara lain
Indonesia–Thailand perkuat kemitraan strategis, fokus ekonomi dan stabilitas ASEAN
Indonesia dan Australia perkuat kerja sama maritim lewat Cassowary Exercise 2026
Indonesia dorong resiliensi ASEAN hadapi ancaman bencana dan krisis
ASEAN mempercepat negosiasi CoC dengan China Laut di tengah ketegangan Selat Hormuz
Indonesia dan Jepang bahas perluasan peluang kerja serta pengembangan SDM terampil
Perkuat akses ke Amerika Selatan, Indonesia dan Peru sepakat percepat perundingan CEPA
Perkuat pertahanan udara Indo-Pasifik, TNI AU dan PACAF gelar A2AT ke-18 di Hawaii
KBRI Tokyo imbau WNI tetap waspada setelah gempa M7,1 di Kumamoto
World Para Athletics Grand Prix 2026: Tim Para Atletik Indonesia raih 16 medali
Pemerintah pantau kepulangan ABK Indonesia terdampak serangan rudal di Selat Hormuz
Indonesia perkuat koordinasi antar lembaga untuk ekspor mineral tanah jarang
Menlu RI dan Kanada sepati peluang baru perluas kemitraan strategis
Indonesia dorong DK PBB utamakan pencegahan konflik untuk jaga perdamaian global
Indonesia dan AS perkuat kerja sama zeni untuk tingkatkan ketahanan bencana
Korea Utara kritik peran AS di ASEAN, tegaskan dukungan pada stabilitas kawasan