Pertumbuhan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir berarti:
Meningkatnya kepemilikan mobil, kemacetan + pembangunan kota yang pesat, konstruksi
Aliran udara alami yang terhambat dan kualitas udara yang kian memburuk
Kota-kota seperti Bishkek dan Almaty terletak di lembah atau cekungan dengan sirkulasi udara dan angin yang terbatas, sehingga menyulitkan polutan untuk tersebar secara alami.
Di musim dingin, hal ini menyebabkan inversi suhu di mana udara dingin memerangkap polusi di dekat permukaan tanah, sehingga menciptakan episode kabut asap.
Musim dingin juga memicu peningkatan emisi ke atmosfer karena bahan bakar fosil, termasuk batu bara, dibakar untuk pemanas ruangan, dan masyarakat cenderung membiarkan mesin mobil tetap menyala.
Pembakaran bahan bakar padat untuk pemanas menyumbang 18–42% paparan PM2.5* di wilayah perkotaan.
Pemantauan dan prediksi kualitas udara masih sangat terbatas di sebagian besar wilayah Asia Tengah. Di sana, banyak kota masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara yang sudah tua serta sistem pemanas peninggalan era Soviet.
Lebih dari 65.000 kematian dini setiap tahunnya di wilayah ini berkaitan dengan polusi partikel halus (atau PM2.5).
Dampak kesehatan akibat polusi udara PM2.5 di Asia Tengah diperkirakan menelan biaya antara US$15,2 miliar hingga US$21,7 miliar setiap tahunnya.













