Bank sentral Indonesia menegaskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah selama periode libur panjang Idul Fitri, di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Reuters, pernyataan ini disampaikan pada Kamis, saat pasar keuangan domestik ditutup sementara hingga 25 Maret. Meski demikian, otoritas moneter menilai pergerakan pasar global tetap berpotensi memengaruhi perekonomian nasional, terutama melalui pasar valuta asing offshore yang tetap aktif.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menekankan bahwa bank sentral akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna memperkuat ketahanan eksternal, termasuk melalui penyesuaian kebijakan apabila dibutuhkan demi menjaga stabilitas ekonomi.
“Langkah yang kami lakukan pada saat liburan panjang ini adalah memang pasar domestik kan tutup, tapi pasar di luar itu tidak tutup. Nah ini yang kami terus berjaga-jaga 24 jam,” ujar Destry.
Pemantauan dilakukan secara intensif sepanjang waktu, dengan fokus utama pada pergerakan rupiah terhadap dolar AS di pasar Non Deliverable Forward (NDF). BI juga bekerja sama dengan kantor perwakilannya di New York untuk memastikan pengawasan tetap berjalan selama libur Lebaran.
BI juga membuka kemungkinan intervensi langsung di pasar NDF global jika tekanan terhadap rupiah meningkat. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas di tengah volatilitas pasar internasional.
Data menunjukkan bahwa hingga 16 Maret 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.985 per dolar AS, melemah sekitar 1,29 persen dibandingkan akhir Februari. Meski demikian, depresiasi tersebut dinilai masih lebih terkendali dibandingkan beberapa negara di kawasan, seperti India dan Filipina.
Bank Indonesia menegaskan bahwa seluruh langkah ini merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas rupiah dan memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga, terutama di tengah dinamika global yang tidak menentu selama periode libur Idul Fitri.











