Washington, DC — Mantan Jaksa Khusus Amerika Serikat Jack Smith memberikan kesaksian selama hampir lima jam di hadapan Komite Kehakiman DPR AS pada 22 Januari 2026, membela penyelidikan terkait dugaan upaya Donald Trump mengganggu pemilu 2020 serta penanganan dokumen rahasia negara.
Dalam sidang tersebut, Smith menegaskan bahwa dua kasus federal—terkait penyimpanan dokumen rahasia dan dugaan upaya menggagalkan hasil pemilu—didorong oleh bukti, bukan motif politik.
Sidang ini menjadi penampilan publik pertama Smith secara mendetail sejak ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Jaksa Khusus.
Saat Trump menyerukan agar Smith “dituntut atas tindakannya” dan menuduhnya melakukan “sumpah palsu skala besar”, Smith mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa ia memperkirakan Departemen Kehakiman AS dapat saja menindaklanjuti ancaman pidana terhadap dirinya di masa depan.
Berikut lima poin utama dari kesaksian Smith selama lima jam:
1. Smith tetap membela dakwaan terhadap Trump
Smith menyatakan ia akan kembali mengajukan dakwaan yang sama jika menghadapi fakta yang identik, tanpa memandang afiliasi politik siapa pun.
Menurutnya, bukti yang dikumpulkan telah memenuhi standar pembuktian pidana, dan penyelidikan terkait pemilu 2020 ia sebut sebagai “skema kriminal yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghalangi transisi kekuasaan secara damai”.
“Saya berdiri di balik keputusan saya sebagai jaksa khusus, termasuk keputusan untuk mendakwa Presiden Trump,” ujar Smith.
2. Trump disebut bertanggung jawab langsung atas 6 Januari
Smith mengatakan Trump “memanfaatkan” loyalitas para pendukungnya, mengabaikan nasihat para pembantu yang menyatakan pemilu berlangsung sah, dan berupaya mempertahankan kekuasaan.
Menurut Smith, serangan ke Gedung Capitol dapat diperkirakan dan dimanfaatkan oleh Trump, yang ia sebut sebagai “orang yang menyebabkan peristiwa 6 Januari”.
“Donald Trump adalah orang yang menyebabkan 6 Januari,” kata Smith kepada panel, seraya menambahkan bahwa kekerasan tersebut dapat diprediksi karena keinginan Trump untuk tetap berkuasa.
3. Penyelidikan berbasis fakta, bukan politik
Smith menepis tudingan bahwa penyelidikan bermuatan politik, dan menegaskan timnya “mengikuti fakta dan hukum”.
Ia menekankan bahwa dakwaan muncul dari bukti kejahatan serius dalam kasus pemilu dan dokumen rahasia, bukan karena bias politik.
“Tim saya mengikuti fakta dan mengikuti hukum,” ujar Smith, menambahkan bahwa ia bertindak “tanpa mempertimbangkan politik” dan tidak menyesali dakwaan yang diajukan.
4. Bukti dinilai cukup untuk vonis bersalah
Smith mengatakan kantornya telah mengembangkan bukti yang melampaui keraguan wajar dan cukup kuat untuk memenangkan persidangan dalam kedua kasus.
Menurutnya, terdapat bukti yang memadai untuk menghukum Trump baik dalam perkara upaya membatalkan hasil pemilu 2020 maupun penyimpanan ilegal dokumen rahasia di Mar-a-Lago.
5. Tidak gentar menghadapi potensi intimidasi
Smith memperingatkan bahwa kegagalan menindak pihak yang berupaya merusak pemilu 2020 dapat membawa konsekuensi yang sangat serius bagi demokrasi.
Ia juga menegaskan tidak gentar menghadapi potensi intimidasi di masa depan dari pihak Trump atau pejabat pemerintahannya.
Mantan Jaksa Khusus itu menutup dengan menegaskan bahwa “supremasi hukum tidak berjalan dengan sendirinya.”















