Pasar saham global merosot dan harga minyak melonjak setelah Donald Trump dan para pemimpin Iran saling melontarkan ancaman terkait Selat Hormuz yang strategis. Sementara itu, Israel menyatakan perang di Timur Tengah masih bisa berlangsung beberapa pekan ke depan.
Memasuki pekan keempat tanpa tanda-tanda mereda, kepala Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan potensi krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade. Ia menyebut perekonomian dunia kini berada dalam “ancaman besar” akibat konflik tersebut.
Para pengamat juga menyoroti kemungkinan lonjakan inflasi yang dapat memaksa bank sentral menaikkan suku bunga. Di saat yang sama, terganggunya pengiriman pupuk turut memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan global.
Eskalasi konflik ini menghantam pasar saham, dengan Seoul dan Tokyo — yang sebelumnya menjadi performer terbaik sebelum perang pecah — mengalami tekanan jual paling besar. Keduanya sempat anjlok masing-masing hingga enam dan lima persen.
Hong Kong turun lebih dari tiga persen, sementara Shanghai, Taipei, dan Manila masing-masing kehilangan lebih dari dua persen. Sydney, Singapura, dan Wellington juga berada di zona negatif dalam.
Nilai tukar won Korea Selatan melemah hingga 1.510 per dolar AS, level terendah sejak 2009.
Harga minyak turut menguat, dengan Brent berada di kisaran 112 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate mendekati 100 dolar AS.
‘Tidak ada negara yang kebal dari dampak krisis ini’
Chris Weston dari Pepperstone menyatakan bahwa hasil perkembangan konflik dan langkah Trump selanjutnya — terutama jika terjadi eskalasi — akan berdampak signifikan terhadap pasar hingga akhir pekan, bahkan hingga penutupan bulan dan kuartal.
Ia menambahkan bahwa meskipun Trump kerap mundur dari situasi genting di masa lalu, ia juga memiliki rekam jejak dalam menindaklanjuti ancaman militer ketika tuntutannya tidak dipenuhi. Karena itu, pasar akan mencermati pernyataannya di Truth Social akhir pekan lalu.
“Jika tenggat waktu terlewati, perhatian akan segera beralih pada skala tindakan terhadap Iran dan bentuk respons Teheran, terutama terhadap pangkalan AS dan sekutunya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala IEA Fatih Birol mengatakan pada Senin: “Perekonomian global saat ini menghadapi ancaman yang sangat besar, dan saya berharap masalah ini bisa segera diselesaikan.”
“Tidak ada satu pun negara yang akan kebal dari dampak krisis ini jika terus berlanjut ke arah ini. Karena itu, dibutuhkan upaya global,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah bank sentral yang mulai meninjau ulang kebijakan moneter, seiring lonjakan harga minyak yang diperkirakan akan mendorong inflasi. Bank Sentral Australia bahkan telah menaikkan suku bunga pekan lalu.
Prospek kenaikan biaya pinjaman turut menekan harga emas yang tidak memberikan imbal hasil. Logam mulia itu telah turun selama delapan hari berturut-turut dan mencatat penurunan mingguan terburuk sejak 1983.
Pada Senin, harga emas berada di kisaran 4.350 dolar AS, setelah sempat mencetak rekor hampir 5.600 dolar AS pada akhir Januari.
Kebuntuan di Hormuz makin dalam
Presiden AS pada Sabtu memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, atau menghadapi penghancuran infrastruktur energinya.
Ultimatum tersebut muncul hanya sehari setelah Trump mengatakan sedang mempertimbangkan untuk “mengurangi” serangan militer. Pernyataan itu datang saat jalur perairan yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia masih praktis tertutup.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menegaskan AS akan “menghantam dan menghancurkan” pembangkit listrik Iran — “dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu” — jika Teheran tidak membuka kembali selat tersebut dalam 48 jam, atau hingga pukul 23.44 GMT pada Senin sesuai waktu unggahannya.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump menutup kemungkinan gencatan senjata, dengan menyebut Washington berada di posisi unggul.
Iran memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan “ditutup sepenuhnya” jika ancaman tersebut benar-benar dijalankan.
Ketua parlemen Iran yang berpengaruh, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital di kawasan secara permanen jika fasilitas Iran diserang. Ia memperingatkan langkah itu akan mendorong harga minyak tetap tinggi “dalam waktu lama.”
Eskalasi terbaru ini terjadi ketika militer Israel menyatakan akan memperluas operasi daratnya di Lebanon terhadap Hizbullah. Seorang juru bicara juga menyebut negaranya masih akan menghadapi “pekan-pekan” pertempuran melawan Iran dan Hizbullah.











