BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
IHSG rontok 8 persen, BEI hentikan sementara perdagangan saham
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga 8 persen pada perdagangan Rabu (28/1), memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaktifkan penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Tekanan jual terjadi hampir merata di seluruh saham.
IHSG rontok 8 persen, BEI hentikan sementara perdagangan saham
IHSG ambles hingga 8 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026). / Reuters
29 Januari 2026

Perdagangan saham di BEI dihentikan sementara pada sesi kedua setelah IHSG terjun 718,44 poin atau 8,00 persen ke level 8.261,78 pada pukul 13.43 WIB. Pada awal perdagangan, indeks dibuka di posisi 8.393,51 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.596,17.

Aksi jual besar-besaran mendominasi pasar. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 768 saham melemah, sementara hanya 28 saham yang menguat dan 8 saham bergerak stagnan. Tekanan terjadi hampir di semua sektor.

Meski terkoreksi tajam, likuiditas pasar terpantau tetap tinggi. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp31,92 triliun dengan volume perdagangan 45,39 miliar saham. Frekuensi transaksi mendekati tiga juta kali.

Trading Halt dan Langkah Bursa

Sesuai ketentuan bursa, trading halt diberlakukan ketika IHSG turun lebih dari 8 persen dalam satu hari perdagangan. Kebijakan ini bertujuan memberi waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi yang berkembang dan meredam volatilitas berlebihan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, otoritas bursa bersama pemangku kepentingan pasar modal akan mengambil langkah lanjutan sesuai kebutuhan. Ia menegaskan BEI terus memantau pergerakan pasar dan mencermati arah IHSG pada perdagangan berikutnya.

Tekanan dari Kebijakan MSCI

Tekanan terhadap pasar saham domestik menguat setelah MSCI menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia. Kebijakan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran investor global terhadap tingginya konsentrasi kepemilikan saham pada sejumlah emiten.

MSCI menyatakan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks serta peningkatan jumlah saham yang tersedia bagi investor untuk sementara dibekukan. Langkah ini diambil karena isu kelayakan investasi, termasuk risiko praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga saham.

Dalam pernyataannya, MSCI menyebut evaluasi lanjutan akan dilakukan apabila hingga Mei 2026 belum terlihat perbaikan signifikan dalam aspek transparansi, termasuk terkait aksesibilitas pasar Indonesia. Evaluasi tersebut berpotensi memengaruhi penilaian status pasar modal Indonesia di tingkat global.

Sorotan Investor Global

Hasil konsultasi MSCI menunjukkan adanya perbedaan pandangan di kalangan investor internasional. Sebagian mendukung penggunaan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan. Namun, sebagian lainnya masih menyoroti persoalan klasifikasi pemegang saham dan struktur kepemilikan yang dinilai terlalu terkonsentrasi.

Meski BEI mencatat adanya perbaikan terbatas pada data free float, investor global menilai isu transparansi dan struktur kepemilikan saham masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pasar modal Indonesia.

TerkaitTRT Indonesia - Modal asing keluar Rp5,96 triliun, IHSG turun 1,37 persen pekan ini
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi