Dana kekayaan negara Indonesia, Danantara Indonesia, menargetkan penyaluran investasi hingga $14 miliar sepanjang 2026. Dana tersebut akan bersumber dari dividen perusahaan-perusahaan yang telah berada dalam portofolionya, seiring upaya memperluas peran Indonesia dalam arsitektur ekonomi global.
Pernyataan itu disampaikan Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, dalam Reuters Global Markets Forum yang digelar di sela-sela World Economic Forum (WEF) di Davos, pada Kamis.
“Pada tahun lalu kami telah mengalokasikan sekitar $8 miliar. Total dana yang perlu kami salurkan tahun ini meningkat menjadi $14 miliar,” ujar Pandu.
Selain memanfaatkan dividen, Danantara juga memperkuat pendanaan melalui pasar obligasi. Pandu mengungkapkan bahwa setelah menerbitkan obligasi sebelumnya, lembaganya berencana meluncurkan penerbitan kedua obligasi bertajuk Patriot dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan.
Strategis global
Keikutsertaan Danantara Indonesia dalam World Economic Forum 2026 menandai partisipasinya di forum ekonomi global tersebut. Kehadiran ini sekaligus mendampingi Presiden Prabowo Subianto, yang untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade menghadiri WEF.
Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa partisipasi di Davos diarahkan untuk membangun kemitraan strategis global, menghimpun modal secara selektif, dan mendorong investasi berkualitas yang berdampak nyata bagi perekonomian nasional.
“Danantara Indonesia hadir di World Economic Forum sebagai wujud komitmen membangun kemitraan global dengan tata kelola yang kuat dan investasi berkualitas tinggi. Melalui forum ini, pendekatan Indonesia menjadi lebih terintegrasi antara kebijakan, investasi strategis, dan dunia usaha,” kata Rosan.
Danantara menyatakan tujuan untuk meningkatkan nilai aset kelolaan hingga sekitar $2,7 triliun pada 2030, dari posisi saat ini yang berada di kisaran $900 miliar. Strategi tersebut akan ditempuh melalui konsolidasi terhadap badan usaha milik negara, dengan memangkas jumlah sekitar 1.068 entitas menjadi sekitar 221 perusahaan yang dikelola secara profesional dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Langkah konsolidasi itu diharapkan meningkatkan efisiensi, tata kelola, dan daya saing global, dengan tujuan akhir membentuk kelompok perusahaan negara yang lebih ramping, kuat, dan mampu bersaing di tingkat internasional.
















