Beijing mengatakan telah "mengajukan nota protes" dan mendesak Washington untuk "memperbaiki kesalahan mereka" setelah AS meluncurkan penyelidikan perdagangan baru minggu lalu, sementara negosiator dari kedua negara bertemu di Paris.
Pembicaraan perdagangan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional, dengan Presiden AS Donald Trump juga meminta dukungan China — dan sekutu NATO — untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz, karena lonjakan harga minyak akibat perang AS–Israel terhadap Iran mengancam pasar global.
Perang di Iran kini menjadi latar yang tak terduga bagi diskusi yang semula berfokus pada perdagangan.
Penyelidikan perdagangan Washington menargetkan 60 ekonomi, termasuk China, dan akan menyelidiki "kegagalan mengambil tindakan terhadap kerja paksa" serta apakah hal itu memberatkan atau membatasi perdagangan AS.
Penyelidikan tersebut datang sehari setelah serangkaian penyelidikan AS lainnya, yang berfokus pada kelebihan kapasitas industri dan menargetkan 16 mitra dagang, termasuk China, yang dikritik kementerian luar negeri Beijing sebagai "manipulasi politik".
"Kami mendesak pihak AS untuk segera memperbaiki kesalahan mereka, bertemu China di tengah jalan... dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi," kata kementerian perdagangan Beijing dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.
Putaran penyelidikan terbaru "sangat sepihak, sewenang-wenang dan diskriminatif", katanya, menuduh Washington "mencoba membangun hambatan perdagangan".
Pejabat perdagangan dari kedua negara bertemu di Paris pada hari Minggu untuk pembicaraan yang menurut Washington akan berlangsung selama dua hari.
China telah "mengajukan nota protes" kepada AS terkait penyelidikan perdagangan terbaru tentang kerja paksa, kata kementerian perdagangan China.
AS telah lebih dulu memberlakukan tindakan terhadap impor panel surya dan barang lain dari wilayah Xinjiang di China berdasarkan Undang‑Undang Perlindungan Kerja Paksa Uighur yang diteken menjadi undang‑undang oleh mantan Presiden Joe Biden.
Kedua rangkaian penyelidikan perdagangan itu kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan, tetapi bisa menjadi alasan untuk memberlakukan tarif baru setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif luas Presiden Donald Trump pada bulan Februari.
Diskusi perdagangan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional, dengan Trump menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi kunjungannya ke China.
Dalam wawancara dengan Financial Times, ia mengatakan perjalanan yang dijadwalkan pada 31 Maret hingga 2 April itu bisa ditunda saat ia mencari dukungan Beijing untuk membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan lonjakan harga minyak akibat perang di Iran.

Ketidakpastian itu menekankan bagaimana serangan AS–Israel terhadap Iran telah mengubah politik global dalam dua minggu terakhir. Membatalkan kunjungan tatap muka dengan Presiden China Xi Jinping bisa berdampak ekonomi besar, karena Washington dan Beijing secara berulang saling mengancam dengan tarif tinggi sepanjang tahun lalu.
Kementerian luar negeri Beijing mengatakan pada hari Senin (16/3) bahwa Beijing dan Washington "sedang mempertahankan komunikasi mengenai kunjungan Presiden Trump ke China".
"Diplomasi kepala negara memainkan peran strategis pembimbing yang tak tergantikan dalam hubungan China-AS," kata juru bicara Lin Jian dalam konferensi pers.
Ia tidak menyinggung tekanan terbaru Trump terhadap sekutu NATO dan China untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.















