MSCI merupakan singkatan dari Morgan Stanley Capital International, sebuah perusahaan penyedia indeks pasar keuangan global yang menjadi acuan utama investor institusional. MSCI tidak mengelola dana investasi secara langsung, namun indeks-indeks buatannya digunakan sebagai patokan oleh manajer investasi dan dana indeks (exchange-traded fund/ETF) di seluruh dunia.
Salah satu produk paling berpengaruh adalah MSCI Emerging Markets Index, yang melacak pergerakan saham di negara-negara berkembang dengan nilai acuan mencapai sekitar US$10 triliun. Masuk atau keluarnya suatu negara dari indeks ini dapat memicu penyesuaian portofolio otomatis dan menggerakkan arus dana dalam jumlah besar.
Mengapa MSCI menyoroti pasar saham Indonesia?
MSCI menyampaikan bahwa sejumlah kliennya menemukan persoalan terkait kualitas dan transparansi data pasar saham Indonesia. Isu yang disorot mencakup ketidakjelasan porsi saham yang dapat diperdagangkan secara bebas (free float) serta metode pengelompokan kepemilikan saham oleh bursa.
Selain itu, MSCI juga menyinggung struktur kepemilikan saham yang dinilai kurang transparan serta adanya indikasi pola perdagangan terkoordinasi, yang berpotensi mengganggu proses pembentukan harga yang wajar di pasar.
Atas temuan tersebut, MSCI memberikan waktu hingga Mei bagi Indonesia untuk menunjukkan perbaikan. Hasil evaluasi itu akan menentukan apakah bobot Indonesia dalam indeks pasar berkembang dikurangi atau bahkan diturunkan ke kategori frontier market.
Dampak langsung ke IHSG dan investor
Peringatan dari MSCI tersebut langsung memicu reaksi keras pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 16,7 persen dalam dua hari, seiring aksi jual investor asing. Meski sempat pulih di sesi perdagangan Kamis, IHSG tetap ditutup melemah 1,1 persen, mencatatkan penurunan dua hari berturut-turut.
Menurut estimasi Goldman Sachs, jika Indonesia benar-benar diturunkan ke frontier market, potensi arus keluar dana asing dapat mencapai US$7,8 miliar, meski skenario ini dinilai kecil kemungkinannya oleh sebagian pelaku pasar.
Saat ini, Indonesia memiliki bobot sekitar 1 persen dalam MSCI Emerging Markets Index, yang mayoritas diisi oleh saham-saham dari China, Taiwan, dan India.
Respons pemerintah dan langkah ke depan
Otoritas keuangan Indonesia menyatakan pemerintah menerima masukan dari MSCI sebagai bahan evaluasi. Pemerintah juga menyebut komunikasi dengan MSCI berlangsung positif dan saat ini menunggu tanggapan atas sejumlah usulan perbaikan.
Salah satu langkah yang diajukan adalah rencana menaikkan ketentuan free float minimum emiten menjadi 15 persen, atau dua kali lipat dari ketentuan sebelumnya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta transparansi pasar saham nasional.
Meski proses perubahan status indeks biasanya memakan waktu panjang, tekanan pasar dapat terjadi lebih cepat. Karena itu, langkah perbaikan yang konkret dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan posisi Indonesia di pasar keuangan global.















