Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menegaskan pentingnya keterlibatan ASEAN secara konstruktif dan berkelanjutan dalam upaya penyelesaian krisis di Myanmar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Extended Informal Consultation on the Implementation of the Five-Point Consensus (5PC) yang berlangsung di Cebu, Filipina, pada Rabu.
Pertemuan ini merupakan bagian dari agenda ASEAN Foreign Ministers’ Retreat (AMM Retreat), yang menjadi agenda awal kepemimpinan Filipina sebagai Ketua ASEAN tahun ini.
Dalam forum tersebut, Menteri Luar Negeri Filipina, Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar, menjelaskan perkembangan terbaru situasi di Myanmar. Para Menteri Luar Negeri ASEAN kemudian membahas secara mendalam pelaksanaan Konsensus Lima Poin serta arah prioritas kerja ASEAN ke depan.
Menlu Sugiono menilai krisis Myanmar sebagai ujian serius bagi ketangguhan dan kredibilitas ASEAN sebagai organisasi kawasan.
“Hal ini menunjukkan komitmen ASEAN untuk memastikan bahwa rekonsiliasi di Myanmar tetap menjadi prioritas utama,” tegas Sugiono, merujuk pada langkah-langkah diplomatik yang telah dilakukan ASEAN, termasuk kunjungan Utusan Khusus ke Myanmar.
Ia menekankan bahwa, berlandaskan komitmen bersama untuk menciptakan perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan kawasan, ASEAN perlu terus hadir secara konsisten dalam mendukung proses perdamaian yang inklusif di Myanmar.
Tantangan regional
Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas upaya diplomatik Filipina yang telah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak di Myanmar. Menurut Sugiono, langkah tersebut merupakan kontribusi nyata yang relevan dalam membuka ruang dialog.
Pertemuan para Menteri Luar Negeri ASEAN di Cebu juga membahas berbagai isu kawasan lainnya, termasuk ketegangan di Laut China Selatan, konflik internal berkepanjangan di Myanmar, serta persoalan perbatasan antarnegara anggota.
Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro sebelumnya menilai lingkungan keamanan global saat ini semakin kompleks dan saling terkait. Ia menegaskan komitmen Manila untuk tetap menjunjung tatanan internasional berbasis aturan, serta mendorong ASEAN agar tetap berpegang pada prinsip dialog, penahanan diri, dan hukum internasional.
ASEAN menegaskan kembali tekad kolektifnya untuk mencari solusi damai dan berkelanjutan bagi Myanmar, yang bersifat Myanmar-owned dan Myanmar-led, sebagaimana dalam Konsensus Lima Poin yang disepakati pada 2021.
Pertemuan ini menandai pertemuan tingkat menteri luar negeri ASEAN pertama di bawah keketuaan Filipina, sekaligus menjadi momentum bagi blok Asia Tenggara tersebut untuk menyelaraskan agenda dan respons bersama terhadap dinamika kawasan yang terus berkembang.










