Perubahan tatanan global menempatkan ASEAN pada salah satu ujian terberatnya dalam beberapa dekade terakhir. Namun, para pemimpin pemerintah dan bisnis yang berbicara dalam panel World Economic Forum (WEF) di Davos menilai gejolak global justru membuka peluang yang dapat dimanfaatkan kawasan ini.
Melansir laporan The Straits Times pada Kamis (22/01), dalam diskusi bertajuk “Is ASEAN Moving Fast Enough?” pada di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas, mengidentifikasi tiga “pergeseran besar” yang mendominasi percakapan global: geopolitik, transformasi berbasis kecerdasan buatan (AI), dan perubahan iklim.
Di tengah melemahnya “buku panduan lama”, ia menekankan pentingnya kerja sama regional yang lebih erat. “ASEAN netral dalam perdagangan dan investasi, tetapi kita perlu bergerak lebih dekat satu sama lain,” ujarnya.
Menurut Ekniti, sejumlah investor yang ditemuinya di Davos masih memandang ASEAN sebagai kawasan yang aman untuk investasi karena kemampuannya berdagang dengan banyak negara. “Jika kita bekerja bersama, berbasis fondasi seperti perdagangan intra-kawasan, kita bisa menjadi lebih kuat,” katanya.
Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia Meutya Viada Hafid menilai kecepatan integrasi ASEAN tidak bisa dilepaskan dari isu inklusivitas.
Dengan sekitar 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, tantangan Indonesia bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan seberapa cepat teknologi itu menjangkau seluruh masyarakat. “Integrasi harus berjalan tanpa meninggalkan siapa pun,” katanya.
Ia mencontohkan sistem pembayaran QRIS yang kini digunakan secara luas di Indonesia dan telah terhubung dengan sistem di Thailand, Malaysia, dan negara lain untuk transaksi lintas batas.
Budaya kolaborasi ini, kata Meutya, menjadi dasar bagi Digital Economy Framework Agreement (DEFA), yang ditargetkan ditandatangani pada 2026. “DEFA bukan hanya perjanjian dagang, tetapi akan menjadi semacam sistem operasi yang memungkinkan teknologi antarnegara ASEAN saling terhubung,” ujarnya, seperti dikutip The Straits Times.
‘ASEAN semakin bersaing’
Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) Masato Kanda mengingatkan bahwa AI dapat mendorong produktivitas, namun juga membawa risiko sosial jika tidak diiringi penciptaan lapangan kerja.
“Jika generasi muda tidak mendapatkan pekerjaan yang layak, itu bisa memicu instabilitas sosial,” katanya, seraya menekankan pentingnya investasi pada pendidikan dan konektivitas regional.
Sementara itu, CEO Asia-Pasifik Zurich Insurance Group Tulsi Naidu menilai daya tarik ASEAN terletak pada ketahanannya menghadapi guncangan global. Meski ketegangan geopolitik meningkat dan tarif berada di level tertinggi sejak 1940-an, ekonomi ASEAN terbukti lebih tangguh dari perkiraan banyak investor.
menurutnya, Fokus ke depan harus pada kualitas pertumbuhan, termasuk ketahanan terhadap risiko iklim dan ancaman siber.
Optimisme serupa disampaikan Direktur Jenderal Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) Daren Tang, yang menilai ASEAN berada di garis depan inovasi.
“ASEAN semakin bersaing lewat ide, budaya, dan konten, bukan sekadar biaya,” ujarnya.
ASEAN kini memiliki sekitar 45–50 unicorn, tertinggi di antara wilayah ekonomi berkembang, dengan belanja riset dan pengembangan mencapai sekitar US$60 miliar dan tumbuh rata-rata 8,5 persen per tahun.















