Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menyerukan agar kelompok negara MIKTA (Meksiko, Indonesia, Republik Korea, Türkiye, dan Australia) dapat memaksimalkan potensi kolektifnya untuk memberikan kontribusi nyata dalam membentuk masa depan sistem multilateral dunia.
Hal tersebut disampaikan oleh Menlu Sugiono saat menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ke-30 MIKTA yang diselenggarakan di sela-sela High-level Week Sidang Majelis Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada Senin (21/9).
"Dengan kekuatan kolektif yang kita miliki, MIKTA dapat berkontribusi nyata dalam membentuk masa depan sistem multilateral dan menghadirkan manfaat yang lebih terasa bagi masyarakat," tegas Menlu Sugiono, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri RI.
Dalam kesempatan tersebut, Menlu RI turut menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Australia yang memegang keketuaan MIKTA pada 2026 dengan mengusung tema "State of the Multilateral System and the Role of Middle Powers." Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengangkat posisi negara-negara kekuatan menengah (middle powers).
Terkait isu reformasi PBB, Indonesia menekankan bahwa perubahan yang dilakukan tidak boleh sekadar berfokus pada aspek efisiensi semata, melainkan juga harus mencakup penguatan legitimasi, efektivitas, serta akuntabilitas institusi global tersebut. MIKTA dinilai mampu menjaga kesinambungan inisiatif reformasi sekaligus membantu membangun konsensus peta jalan yang berlandaskan visi bersama.
Selain itu, Indonesia juga menyoroti pentingnya kredibilitas dan konsistensi yang menjadi pilar utama MIKTA, didukung oleh keragaman perspektif dari masing-masing kawasan anggotanya. Usulan pembentukan mekanisme country coordinator untuk sektor-sektor tertentu turut disuarakan agar koordinasi kerja sama antarnegara anggota dapat berjalan semakin solid dan terarah.
Di hadapan para menlu anggota MIKTA, Menlu Sugiono turut mengapresiasi respons sigap kelompok tersebut dalam merilis pernyataan bersama terkait insiden serangan terhadap pasukan pemelihara perdamaian asal Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL di Lebanon pada April 2026 lalu. Kemampuan merespons isu secara aktual dinilai krusial untuk menjaga relevansi MIKTA di kancah internasional, di samping pembahasan mengenai agenda pembangunan global dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menutup pandangannya, Menlu RI mengingatkan agar kerja sama MIKTA dapat diperluas dengan melibatkan sektor swasta, filantropi, serta berbagai mitra strategis guna menerjemahkan setiap gagasan diplomasi menjadi aksi yang berdampak langsung.

















