Seberapa besar dampak tewasnya Ali Larijani bagi Iran?
DUNIA
5 menit membaca
Seberapa besar dampak tewasnya Ali Larijani bagi Iran?Teheran menghadapi krisis kepemimpinan setelah tewasnya Larijani, yang dinilai dapat mengancam kelangsungan pemerintahan, menurut para ahli.
Mantan komandan IRGC, Larijani meraih gelar PhD-nya tentang filsafat matematika dari intelektual Jerman abad ke-18, Immanuel Kant. / Reuters
15 jam yang lalu

Teheran kembali menghadapi krisis kepemimpinan setelah Israel mengonfirmasi pembunuhan Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam serangan udara di pinggiran timur ibu kota pada 17 Maret.

Disebut Israel sebagai “pemimpin de facto” Iran, Larijani merupakan tokoh paling senior yang dieliminasi sejak kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada 28 Februari, hari pertama perang AS-Israel melawan Iran.

Larijani (67) mengisi kekosongan kekuasaan pasca wafatnya Khamenei, dan muncul sebagai “figur terpenting” selama dua setengah pekan konflik berlangsung.

Berasal dari keluarga elite politik dan ulama, ia menjabat tiga periode sebagai ketua parlemen (2008–2020), memimpin lembaga penyiaran negara selama 11 tahun, menjadi kepala negosiator nuklir dengan negara Barat, serta berperan dalam kemitraan strategis 25 tahun Iran dengan China.

Sebuah profil di surat kabar Israel Haaretz menyebutnya sebagai “darah dan daging” dari struktur kekuasaan Iran.

Para ahli menilai Iran kini mengalami gangguan strategis dan operasional pasca tewasnya Larijani, dengan pembunuhan tokoh penting ini berpotensi mempercepat pergeseran Teheran menuju sikap perlawanan tanpa kompromi.

Gokhan Ereli, peneliti independen dan pakar Timur Tengah, mengatakan kepada TRT World bahwa Larijani adalah salah satu “manajer krisis utama” Iran.

“Ia merupakan salah satu penghubung paling vital antara militer, ulama, dan diplomasi Iran,” ujarnya.

Menurutnya, penghilangan Larijani merupakan bagian dari strategi “pemenggalan fungsional” oleh Israel dan AS.

“Dampaknya sangat mengganggu bagi negara dan masyarakat Iran,” katanya.

Mantan komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) itu meraih gelar doktor dengan disertasi tentang filsafat matematika dari pemikir Jerman abad ke-18, Immanuel Kant. Tiga dari enam buku yang ia tulis membahas filsuf tersebut.

Larijani dikenal memadukan loyalitas ideologis dengan pragmatisme teknokratis. Pemerintah Barat menudingnya bertanggung jawab atas penindakan keras terhadap demonstran di dalam negeri yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.

Meski memiliki kedekatan kuat dengan kalangan ulama selama puluhan tahun, ia didiskualifikasi dari pencalonan presiden pada 2021 dan 2024 karena dinilai memiliki “gaya hidup yang kurang religius.”

Setelah kematian Khamenei, ia menjadi wajah utama perlawanan Iran, sekaligus mengoordinasikan respons lintas sektor militer dan politik.

Ereli menilai Larijani memiliki “kemampuan unik untuk menerjemahkan” tujuan militer IRGC menjadi strategi politik dan diplomatik. Tanpanya, proses pengambilan keputusan Iran akan melambat dalam jangka pendek.

“Ketidakhadiran Larijani akan memperkuat kelompok yang mendukung perlawanan total,” tambahnya.

“Pengetatan sikap pemerintah Iran adalah hasil yang paling mungkin terjadi.”

Panglima militer Iran Amir Hatami telah bersumpah memberikan respons “tegas.” Dalam aksi balasan pertama setelah kematian Larijani, Teheran meluncurkan rudal ke Israel pada Rabu, menewaskan sedikitnya dua orang di dekat Tel Aviv.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan telah memberikan kewenangan luas kepada angkatan bersenjata untuk bertindak mandiri jika para pemimpin senior lainnya mengalami nasib serupa.

Pemakaman Larijani dan tokoh lainnya dijadwalkan berlangsung pada Rabu di tengah meningkatnya kecemasan di Teheran.

Omair Anas, profesor hubungan internasional di Ankara Yildirim Beyazit University, mengatakan kepada TRT World bahwa kematian Larijani merupakan “kemunduran terbesar” bagi pemerintah Iran.

Larijani disebut sebagai “pemadam kebakaran utama” dalam krisis ini, yang selama puluhan tahun dipercaya oleh pemimpin tertinggi yang telah wafat.

“Tanpa dirinya, pengambilan keputusan dan pemikiran strategis pemerintah Iran akan mengalami gangguan dan ketidaksinkronan sementara,” kata Anas.

“Ini sama sekali bukan pertanda baik bagi kelangsungan pemerintah,” tambahnya.

Militer di garis depan

Para ahli memperkirakan dominasi IRGC—cabang terkuat militer Iran yang langsung bertanggung jawab kepada pemimpin tertinggi—akan semakin menguat dalam menentukan arah perang ke depan.

Ereli menilai pengaruh Larijani lebih bersifat personal dibanding institusional. Ia berperan sebagai “figur jembatan” antara ulama puncak dan pejabat IRGC yang mengendalikan kekuasaan di Teheran.

Menurutnya, IRGC semakin meminggirkan politisi sipil.

Tanpa Larijani sebagai penyeimbang, aparat militer dan keamanan sangat mungkin mengambil alih kewenangan formal yang sebelumnya ia pegang.

Hal ini membuat Mojtaba Khamenei—pemimpin tertinggi baru sekaligus putra Ali Khamenei—menjadi “lebih bergantung” pada lingkaran IRGC, bahkan berpotensi menjadi “sandera kepentingan militer.”

Anas menyebut pengganti Larijani sebenarnya ada, termasuk tokoh garis keras Saeed Jalili. Namun, ia menilai jumlah posisi kosong lebih banyak dibanding kandidat yang tersedia.

Banyak tokoh senior kini masuk dalam daftar target Israel, memaksa Iran beralih ke “penugasan tidak resmi” untuk menghindari pembunuhan lebih lanjut.

Kematian Larijani juga dapat memengaruhi jalur diplomasi informal yang selama ini ia bangun, terutama dengan Oman dan Rusia, kata Ereli.

Namun ia mengingatkan agar tidak terlalu mempersonalisasi hubungan antarnegara, karena relasi dengan Oman, Rusia, dan China telah “tertanam dalam negara” dan kemungkinan tetap berlanjut, meski dengan fleksibilitas yang lebih rendah dan kontrol sektor keamanan yang lebih besar.

Terkait kemungkinan eskalasi atau deeskalasi pasca pembunuhan tokoh penting, para ahli menolak anggapan bahwa Iran akan melunak atau mengurangi perlawanan militernya.

Ereli justru menilai Larijani melihat “eskalasi regional terukur”—seperti dukungan terhadap serangan ke pangkalan AS di Timur Tengah—sebagai salah satu alat, bukan pengganti diplomasi.

Namun pasca-Larijani, Iran diperkirakan akan mempersempit fokus pada “respons militer murni.”

Peluang tercapainya gencatan senjata terbatas atau kesepakatan besar kini semakin kecil, tambahnya.

“Diplomasi mungkin akan ditinggalkan untuk sementara waktu,” kata Ereli.

Menurut Anas, Larijani memiliki kemampuan diplomatik untuk mengakali Israel, mencari titik tengah, dan mencapai kesepakatan.

Ia menilai Israel menargetkan Larijani bukan karena ia berbahaya, melainkan karena ia berpotensi membawa Iran menuju solusi diplomatik—sesuatu yang “paling tidak disukai” oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“Israel pada dasarnya mendorong Iran menuju perang saudara dan kekacauan dengan menyingkirkan semua pihak yang mampu mencapai kesepakatan,” ujarnya.

SUMBER:TRT World