Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan politik di Amerika Serikat serta ketidakpastian terkait kebijakan moneter The Federal Reserve. Pada Kamis, rupiah turun tipis ke Rp16.724 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.717.
Sentimen global mendominasi pergerakan pasar setelah muncul keyakinan bahwa penutupan pemerintahan AS yang akan segera berakhir. Gedung Putih pada Rabu waktu Washington menyampaikan kepercayaan bahwa kompromi anggaran siap diloloskan oleh Kongres, sebelum dikirim ke meja Presiden Donald Trump.
Pasar global masih menghadapi ketidakjelasan tambahan setelah pemerintah AS menyampaikan bahwa rilis data Consumer Price Index (CPI) dan pengangguran untuk Oktober 2025 berpotensi ditunda selama penutupan pemerintahan masih berlangsung. Bureau of Labor Statistics (BLS) belum memberikan kepastian mengenai jadwal terbaru, yang membuat investor semakin berhati-hati menjelang rapat FOMC Desember 2025.
Tekanan domestik
Di perdagangan sebelumnya, Rabu 12 November 2025, rupiah sempat merosot hingga 35 poin ke Rp16.724, sebelum ditutup melemah 30 poin dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.694. Berakhirnya shutdown dapat membuka jalan bagi publikasi data ekonomi resmi yang selama ini tertunda, suatu faktor yang bisa mengurangi ketidakpastian dan pada akhirnya memperkuat dolar AS dibandingkan rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan tambahan muncul setelah Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,33 persen, lebih rendah dari target 5,4 persen yang telah disepakati pemerintah dan DPR.
Proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi ekonomi global maupun domestik yang masih menantang.
Perkiraan pertumbuhan BI yang di bawah angka dalam APBN 2026 turut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sentimen terhadap mata uang rupiah. Pemerintah menilai target tersebut realistis, namun tetap bergantung pada kecepatan realisasi program belanja fiskal.













