Indonesia dan Jepang kembali menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama pertahanan, khususnya di sektor maritim, melalui pertemuan tingkat tinggi di Jakarta. Menteri Pertahanan Republik Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan kehormatan Chief of Staff Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF), Laksamana Saito Akira, di Kantor Kementerian Pertahanan, pada Kamis.
Dalam pertemuan tersebut, Sjafrie menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Navy Dialogue Indonesia–Jepang yang digelar di Jakarta pada 20 Januari 2026. Forum tersebut dinilai menjadi platform strategis untuk memperkuat pertukaran pandangan, koordinasi kebijakan, serta peningkatan kerja sama antara angkatan laut kedua negara.
Pembahasan kedua pihak mencakup sejumlah agenda utama, mulai dari kerja sama alat utama sistem persenjataan (alutsista), pengembangan teknologi pertahanan, hingga peluang pelaksanaan latihan bersama, termasuk dalam format multilateral.
Di luar sektor pertahanan, Jepang menjadi salah satu mitra ekonomi utama Indonesia. Kontribusi Jepang melalui skema Official Development Assistance (ODA), termasuk dukungan pembiayaan proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Selain itu, investasi Jepang juga tercatat masuk ke berbagai proyek strategis, seperti pelabuhan, pembangkit listrik, dan infrastruktur lainnya.
Pertemuan ini juga menegaskan kesamaan pandangan Indonesia dan Jepang mengenai pentingnya menjaga stabilitas serta keamanan kawasan Indo-Pasifik. Dialog pertahanan yang berkelanjutan dipandang sebagai instrumen penting untuk mendorong transparansi, kerja sama praktis, dan stabilitas regional.
Dalam kesempatan itu, kedua pihak menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang pertahanan maritim.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan RI, termasuk Kepala Badan Logistik Pertahanan dan Direktur Jenderal Strategi Pertahanan.











