IKLIM
3 menit membaca
Indonesia menghadapi risiko banjir yang lebih besar di musim hujan ini
BMKG memperingatkan puncak musim hujan yang lebih lama dan curah hujan ekstrem, meningkatkan potensi bencana banjir di banyak kota.
Indonesia menghadapi risiko banjir yang lebih besar di musim hujan ini
Jalan tergenang setelah hujan deras semalaman di Legian, Badung, Bali. / Reuters

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Indonesia akan mengalami puncak musim hujan yang lebih panjang dari biasanya tahun ini. Situasi ini membawa risiko banjir dan curah hujan ekstrem yang lebih tinggi di banyak wilayah di Indonesia.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa musim hujan akan dimulai bulan ini dan berlangsung hingga April 2026. Menurutnya, puncak musim hujan akan terjadi pada November hingga Desember 2025 di Sumatera dan Kalimantan, sementara Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua akan mengalaminya pada Januari hingga Februari 2026.

"Kita harus waspada karena puncak musim hujan cukup panjang dan terjadi di hampir semua wilayah di Indonesia," ujar Dwikorita, seperti dikutip oleh Reuters.

Sejalan dengan Dwikorita, Guswanto, pejabat lain di BMKG, menambahkan, "Risiko banjir tinggi antara November tahun ini dan Februari tahun depan."

Selain itu, BMKG juga memperingatkan adanya curah hujan ekstrem dalam waktu singkat. Dwikorita menyebutkan bahwa beberapa daerah bisa diguyur hujan setara dengan curah hujan satu bulan hanya dalam satu hari. Peringatan ini datang setelah Bali mengalami curah hujan ekstrem setara curah hujan satu bulan dalam dua hari, memicu banjir yang menewaskan 23 orang dan memaksa evakuasi lebih dari 500 orang.

TerkaitTRT Global - Hujan deras menyebabkan banjir dan bangunan roboh di Denpasar, Bali

Faktor iklim dan kesiapsiagaan

Musim hujan yang lebih panjang ini sebagian besar dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, termasuk fenomena iklim global. Sementara El Niño biasanya menyebabkan kekeringan, adanya pola cuaca lain bisa memicu curah hujan yang intens. Menurut sejumlah ahli iklim, meskipun musim hujan adalah siklus tahunan yang normal di Indonesia, perubahan iklim global telah meningkatkan intensitas dan durasi badai, serta curah hujan ekstrem.

Kondisi ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah berupaya meningkatkan mitigasi bencana melalui berbagai program, termasuk sistem peringatan dini (EWS) untuk bencana hidrometeorologi. Namun, BMKG menekankan bahwa kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci. Dwikorita mengimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca secara rutin dan mengambil langkah-langkah pencegahan, seperti membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan.

Bencana yang terjadi di Bali, yang digambarkan oleh BNPB sebagai bencana hidrometeorologi terburuk dalam satu dekade terakhir, menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa infrastruktur di banyak wilayah masih belum mampu menampung curah hujan yang begitu ekstrem. Banjir yang terjadi di Denpasar, misalnya, tidak hanya disebabkan oleh intensitas hujan, tetapi juga oleh sistem drainase yang kesulitan menampung volume air yang sangat besar.

Dampak dan langkah pencegahan

Ancaman bencana ini tidak hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi juga pada sektor-sektor penting lainnya. Risiko banjir dan tanah longsor di daerah perbukitan bisa mengganggu jalur transportasi dan aktivitas ekonomi. Selain itu, curah hujan berlebihan dapat merusak lahan pertanian, mengganggu pasokan pangan, dan meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air.

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam menghadapi ancaman ini. Langkah-langkah preventif, seperti penataan ruang yang lebih baik, pembangunan infrastruktur drainase yang mumpuni, serta program edukasi bencana berbasis komunitas, menjadi sangat krusial.

Dengan proyeksi musim hujan yang lebih panjang dan intens, Indonesia kini berada di titik kritis. Kesiapsiagaan, kolaborasi, dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi satu-satunya jalan untuk meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi
Jelajahi
Kabut asap pekat lumpuhkan penerbangan di Riau dan picu udara tidak sehat di Malaysia
Imbas kabut asap Indonesia, Singapura jadi kota paling berpolusi di dunia
Gempa magnitudo 5,2 guncang Lombok Barat, BMKG sebut akibat deformasi batuan
Walhi dan Greenpeace ingatkan Indonesia tetap waspada karhutla meski titik panas turun
Kabut asap karhutla Indonesia selimuti Malaysia dan Singapura, kualitas udara di level tidak sehat
Polusi PM2.5 tinggi, kualitas udara Jakarta terburuk keempat di dunia
Ahli: Indonesia punya peluang besar di COP31 Antalya, Türkiye
Air Waduk Karian surut, Desa Somang yang terendam kembali terlihat
Hujan turun, warga Pontianak bernapas lega lepas dari kabut asap karhutla
Musim kemarau picu kekeringan, warga dan lahan pertanian di Bekasi terdampak
Gunung Semeru erupsi enam kali, kolom abu capai 900 meter
AQI Jakarta capai 159, kebakaran hutan Indonesia perburuk kualitas udara di Asia Tenggara
BMKG perkirakan musim hujan di Indonesia mundur ke awal November akibat El Nino
Banjir bandang terjang Solok, satu orang dilaporkan hilang
Karhutla Indonesia berpotensi berlanjut hingga awal November – Kemenhut
BNPB siapkan 3 ton garam untuk operasi modifikasi cuaca atasi karhutla dan kabut asap di Kaltim
Kebakaran hutan terburuk dalam 11 tahun perparah krisis ISPA di Kalimantan
BPBD catat 2.676 karhutla di Sumsel hingga September, 15 daerah masuk zona merah
AQI Jakarta capai 158, kualitas udara masuk empat terburuk dunia
Pemantauan kabut asap tunjukkan dampak karhutla Indonesia di Asia Tenggara