Pemerintahan Donald Trump berencana melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan ini, menurut laporan media AS, CBS News dan CNN mengutip sumber di sektor keamanan nasional.
Namun keputusan akhir belum diambil oleh Trump.
Dalam beberapa hari terakhir, AS secara signifikan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Pentagon sebagian menarik personel dari pangkalan militer yang berada sangat dekat dengan Iran. Mereka juga mengerahkan tiga kapal induk ke kawasan.
Sumber CNN menekankan bahwa langkah seperti itu sesuai dengan praktik standar sebelum operasi potensial dan tidak berarti serangan tak terelakkan.
Menurut saluran tersebut, AS mengirim pesawat pengisian bahan bakar dan jet tempur yang berbasis di Inggris lebih dekat ke kawasan.
The Wall Street Journal menulis bahwa Washington mengerahkan kelompok udara terbesar di sini sejak invasi Irak pada 2003. Gugus kapal induk pimpinan USS Gerald Ford juga dapat tiba di wilayah itu akhir pekan ini.

Pada hari Rabu (18/2), penasihat keamanan utama berkumpul di Situation Room Gedung Putih dan membahas opsi tindakan. Trump dalam pembicaraan pribadi mengemukakan argumen baik untuk melakukan serangan maupun menentangnya.
Menurut sumber CNN, ia aktif berkonsultasi dengan tim dan sekutu serta "banyak memikirkan" konsekuensinya.
Secara paralel Washington melanjutkan kontak diplomatik.
Perwakilan AS dan Iran mengadakan pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada 17–18 Februari, tetapi tidak mencapai terobosan.
Pihak Iran menyatakan adanya "kumpulan prinsip bersama", namun pejabat Amerika mengakui bahwa kedua belah pihak masih berbeda pandangan pada rincian kunci.
Gedung Putih secara publik tidak menetapkan tenggat waktu untuk solusi diplomatik, tambah administrasi Trump. Kantornya menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas, namun skenario militer masih ada di atas meja.
Di tengah sinyal-sinyal ini, ketegangan di kawasan meningkat. Iran, menurut citra satelit, memperkuat fasilitas infrastruktur nuklirnya dan menimbunnya dengan tanah dan beton.














